Nyanyian sihir terus mengalun...
Mengalun-alun pada hati para majnun..
Majnun di tengah gurun..
Gurun yang panasnya hingga ubun-ubun..
Para majnun bertambah majnun..
Panas dan dahaga buat majnun melamun
Tampak telaga di ujung gurun
Fatamorgana di lamun
Aku salah seorang majnun
Dari serombongan majnun..
Meski bukan di gurun
Akulah majnun
Diriku terseret arus dari gunung
Terseret jauh hampir ke ujung
Di tengah arus yang lewati beberapa dusun
Sebuah akar kokoh melambai dan mengalun
Mengajakku lalu menarikku yang bingung
Tapi, mengapa ia mengajakku Sang Majnun?
Aku tak tahu..
Kupegang akar yang kokoh itu
Perlahan-lahan kupanjat pohonnya yang tinggi
Kusadari bahwa akar ini menyelamatkanku
Sebelum diriku terseret hingga ke hulu
Bahkan ke lautan ganas yang ombaknya menderu
Akupun bangkit dan kembali melangkah
Menyusuri jalan yang berliku
Melewati dusun-dusun
Dusun yang penuh dengan pohon tinggi
Yang akarnya kokoh sekali
Tak seperti diriku... Majnun...
Mudah goyah meski tak ada badai
Mudah patah meski tak ada petir menyambar
Berjalan dan merenung
Tertegun bahkan mengaung
Sadarlah hai majnun..
Hidup hanya seumur jagung
Akulah Majnun..
Hidupku di lamun
Ingin ku kembali seperti dulu
Sebelum aku menjadi majnun
Dengan prinsip dan tujuan yang kokoh
Tak mudah roboh..
Beramal dan beramal
Hanya mengharap ridho-Nya
Hingga detik waktu tak lagi berdetak
Hingga sampai pada suatu hari
Dimana saatnya ku kembali
Kembali ke kampung yang abadi..
jendela ilmu
Jumat, 30 September 2011
Senin, 04 Juli 2011
MENJADI MURABBIYAH SUKSES
Tarbiyah merupakan proses pembinaan diri dan umat menuju arahan yang ideal dalam Islam. Tarbiyah islamiyah diarahakan bukan hanya untuk kaum lelaki saja, namun juga perempuan agar dapat memperbaiki diri dan umat sehingga mampu mengisi peran-peran perubahan sesuai dengan bidang dan spesialisasi masing-masing.
Sering kita dengar bahwa ketika mendidik lelaki berarti telah mendidik satu orang. Namun ketika mendidik seorang perempuan maka telah mendidik umat, karena dari rahim seorang perempuan akan lahir generasi-generasi baru penerus peradaban. Muslimah sebagai komponen penting dalam masyarakat hendaknya mendapat sentuhan tarbiyah secara sempurna, agar segala kebaikan dirinya akan membawa kontribusi kebaikan bagi masyarakat luas dan negara. Dan awal dari kehancuran sebuah peradaban bisa jadi diawali oleh kehancuran kepribadian kaum perempuan, sebagaimana kita ketahui bahwa kejayaan sebuah peradaban yang diawali oleh kekokohan kepribadian kaum perempuannya.
Urgensi Tarbiyah bagi Muslimah
dapat dipungkiri bahwa tarbiyah memainkan peran penting dalam dakwah islamiyah dan merupakan langkah efektif untuk menjaga kebaikan manusia. Dengan demikian, melakukan tarbiyah adalah sebuah jalan untuk menjaga dan melipatkan kebaikan diri.
Beberapa urgensi tarbiyah pada kalangan muslimah diantaranya adalah :
1. Keadilan taklif antara kewajiban lekaki dan perempuan, maksudnya Allah memberikan pembebanan (taklif) secara sama dan seimbang antara laki-laki dan perempuan.
2. Menguatkan kecenderungan muslimah kepada kebaikan
3. Antisipasi kondisi eksternal
4. Mempersiapkan muslimah untuk mengemban peran peradaban
5. Kekhususan kaum wanita
6. Muslimah memerlukan kebersamaan
Persiapan Menjadi Murabbiyah
Yang diperlukan adalah hal-hal sebagai berikut:
1. Kesediaan untuk berproses bersama dalam kebaikan sesuai mekanisme kejamaahan
2. Kesediaan untuk berproses bersama kader untuk mengoptimalkan berbagai potensi yang dimiliki
3. Kesungguhan untuk mengelola proses pembinaan dalam bingkai system
4. Kemauan yang kuat untuk senantiasa meningkatkan berbagai kapasitas diri
5. Pemahaman akan visi, misi, tujuan, tahapan, metode serta sarana dalam pembinaan
Allah SWT mengajarkan kita agar senantiasa melakukan persiapan dalam setiap amal, sebagaimana tertera dalam firman-Nya: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al Anfal:60)
Untuk menjadi murabbiyah memerlukan sejumlah persiapan diri, agar hasil yang diharapkan secara timbale balik lebih optimal. Diantara persiapan yang diperlukan bagi murabbiyah adalah:
1. Siapkan mental: Setiap murabbiyah harus mendudukkan dirinya dalam posisi Pembina, dimana ia akan menjadi tempat bertanya, tempat curhat, tempat mengeluh, tempat mengadukan permasalahan, juga teman mengobrol dan berdiskusi.
2. Siapkan ilmu: kunci pertama dalam persiapan ilmu ini adalah kesediaan untuk belajar, belajar dan terus belajar. Jika mengarah kepada keilmuan yang ideal, Syaikh Said Hawwa menyebutkan beberapa ilmu islam yang harus diketahui oleh setiap muslim dewasa ini:
- Ilmu Ushul Ats-Tsalasah (tiga landasan pokok) yang meliputi pengetahuan tentang Allah Swt, Rasul dan Islam
- Al-Qur`an baik kandungan maupun ilmu-ilmu yang berhubungan dengannya
- Sunah, baik kandungan maupun ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya
- Ilmu Ushul Fiqh
- Ilmu aqidah, akhlak dan fiqih
- Sirah Nabawiyah dan tarikh umat islam
- Ilmu Bahasa Arab
- Sistem musuh dalam menghancurkan islam
- Studi Islam Modern
- Fiqih Dakwah
3. Siapkan Spiritualitas
Setiap murabbiyah hanya dituntut kesungguhan untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, dengan berbagai bentuk ibadah kepada-Nya.
4. Siapkan Akhlak
Murabbiyah bukanlah orang yang hanya pandai menyuruh orang lain melakukan kebajikan, sementara dirinya melalaikan kebajikan tersebut. Untuk itulah dalam sebuah proses tarbiyah, harus ada kontribusi timbal balik, antara murabbi dengan mutarabbiyah dan antar sesama mutarabbiyah, untuk saling memperbagus akhlak.
Ada beberapa perhatian penting bagi setiap murabbiyah untuk menetapi beberapa karakter berikut:
· Berusaha menampilkan keteladanan yang maksimal di depan mutarabbiyah dan masyarakat secara umum di berbagai bidang kehidupan.
· Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah aktivitas ibadah [
· Menjaga kerapihan, keindahan dan kebersihan dalam berpakaian atau berpenampilan secara umum
· Senantiasa berusaha untuk meningkatkan kapasitas keilmuan
· Melaksanakan pertama kali syiar-syiar ubudiyah yang dibebankan kepada mutarabbiyah
· Menebarkan kasih sayang dan lemah lembut kepada mutarabiyah
· Menampilkan sikap kedewasaan dalam bermuamalah dengan mutarabbiyah
· Menampilkan kepribadian kuat, bersemangat tinggi dan berdedikasi penuh keikhlasan
· Mendoakan mutarabbiyah di luar pengetahuan mereka, untuk kebaikan mereka dan keluarga mereka di dunia dan akhirat
· Senantiasa siap memperbaiki kekurangan diri dalam berbagai hal.
Kemampuan Khas Murabbiyah
- Kemampuan berbahasa arab
- Kemampuan berbahasa Indonesia
- Kemampuan menulis dengan huruf arab
- Kemampuan menulis dengan huruf latin
- Kemampuan berbicara
- Kemampuan beretorika
- Kemampuan mendengar pembicaraan
- Kemampuan menyegarkan suasana
- Kemampuan berkomunikasi
- Kemampuan bercerita
- Kemampuan memimpin forum
- Kemampuan merespon dan menyelesaikan masalah
Prinsip Interaksi dalam forum tarbiyah
- Membuat kontrak tarbiyah
- Membangun kepercayaan awal
- Membangun kedekatan murabbiyah dan mutarabbiyah
Untuk membina kedekatan hubungan ini, para murabbiyah hendaknya memperhatikan beberapa perangkat :
· Ikhlas karena Allah dalam berhubungan dengan mutarabbiyah
· Bersahabat dalam berhubungan dengan mutarabbiyah
· Lembut dalam berhubungan dengan mutarabbiyah
· Hidupkan suasana dialogis dalam forum
· Munculkan suasana ukhuwah dalam kelompok
· Perhatikan mutarabbiya termasuk pada hal-hal yang tampak sepele
· Siapkan untuk berproses bersama mutarabbiyah dalam kebaikan
- Membangun komunikasi efektif
Diantara cirri-ciri komunikasi efektif adalah:
· Komunikasi harus mudah dimengerti
· Komunikasi harus lengkap sehingga tidak menimbulkan keraguan
· Komunikasi harus tepat waktu dan tepat sasaran
· Komunikasi dengan landasan saling kepercayaan
· Komunikasi perlu memperhatikan situasi dan kondisi
Diantara hambatan bagi terbangunnya komunikasi yang baik antara murabbiyah dan mutarabbiyah adalah:
· Kesan keangkuhan murabbiyah atau kesakralan murabbiyah di hadapan mutarabbiyah
· Perasaan hati yang tidak enak terhadap murabbiyah dan sebaliknya
· Jauhnya jarak tempat tinggal antara murabbiyah dan mutarabbiyah
· Persepsi negative mutarabbiyah dengan murabbiyah dan sebaliknya
· Kesibukkan masing-masing pihak sehingga tidak menyempatkan waktu untuk membangun komunikasi yang sehat
· Sifat-sifat ketertutupan kedua belah pihak
- Mintalah umpan balik dari mutarabbiyah
Sikap-Sikap yang Harus Dihindari Murabbiyah
- Bersikap kaku apalgi kasar terhadapnya
- Melupakan namanya
- Memotong pembicaraanya
- Menegur langsung dihadapan muslimah lainnya
- Tidak mau menyempatkan mendengar curhatnya
- Tidak memberikan waktu untuknya
- Tidak menanggapi usulannya
- Tidak dialogis dalam mengelola forum tarbiyah
- Tidak ramah dan lembut kepadanya
- Tidak pernah menanyakan kondisinya
- Tidak pernah memujinya
- Tidak mau mengakui kesalahan dan meminta maaf
- Membicarakan di depan mutarabbiyah yang lain ketika yang bersangkutan tidak hadir
Perlengkapan bagi murabbiyah
1. Quran
2. Hadist arba’in
3. Buku induk kumpulan paket materi tarbiyah
4. Catatan materi
5. Referensi induk
6. Referensi rujukan
7. Administrasi
8. Media
9. Transport
10. Komunikasi
Pengelolaan Teknis
1. Mengelola tempat pertemuan
2. Kejelasan teknis pertemuan
3. Menyiapkan perlengkapan teknis yang diperlukan di tempat acara
4. Menyiapkan ruangan
5. Pengaturan kedatangan
6. Penjagaan ketertiban dan kerapian
Pengelolaan forum
Persiapan awal
1. Pengecekan kehadiran
2. Pengecekan kesiapan perlengkapan
3. Penataan forum tarbiyah
Pengelolaan agenda forum tarbiyah
1. Pembukaan
2. Tilawah
3. Kultum
4. Penyampaian materi
5. Diskusi
6. Syura
7. Taklimat
8. Kesimpulan
9. Penutup
10. Infaq
11. Pengecekan syiar dan hafalan
Kegiatan tarqiyah bersama
1. Mabit atau jalsah ruhiyah
2. Diskusi atau bedah buku
3. Daurah ilmiyah tsaqafiyah
4. Kursus bahasa arab
5. Dauroh manajemen dan lifeskill
6. Riyadhah
7. Mukhayam
8. Rihlah
9. Silaturahim
10. Shalat fardhu berjamaah
11. I’tikaf ramadhan
12. Membagi hadiah Kegiatan tadribiyah
13. Kegiatan munasharah atau pembelaan terhadap kaum muslimin
14. Kegiatan muzhaharah atau demonstrasi
15. Kegiatan kepanitiaan
16. Mengisi daurah
17. Aktivitas organisasi
18. Mengelola halaqoh tarbawiyah
19. Keterlibatan dalam dakwah amah
Beberapa Tips :
1. Membangun keterbukaan
2. Hidupkan suasana diskusi
3. Libatkan mereka dalam program halaqah
4. Variasikan kegiatan halaqah
5. Libatkan mereka dengan acara-acara keislaman
6. Libatkan dalam aktivitas amal jama’i
7. Jangan terlalu banyak memberi beban
Dakwah adalah kerja hati, maka hanya hati yang selalu bermuajahah kepada Allah yang mampu memaknai tarbiyah dengan benar dan ikhlas dalam menjalankannya. Sang murabbiyah sejati bertugas menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran kapanpun dan dimanapun dia berada, serta senantiasa bersungguh-sungguh dalam memperbaiki kualitas diri agar mampu menciptakan mutarabby yang berkualitas pula serta siap meneruskan risalah dakwah.
Ingatlah bahwa malaikat, penduduk langit dan bumi, sampai semut-semut di lubang dan ikan-ikan di lautan memohonkan rahmat-Nya bagi manusia yang mengajarkan kebaikan.
Wallahu ‘alam bishowab…
Sumber: Menjadi murabbiyah sukses (Cahyadi takariawan dan Ida Nur laila)
Sabtu, 02 Juli 2011
RESUME: MENUJU KEMENANGAN DAKWAH KAMPUS
MENUJU KEMENANGAN DAKWAH KAMPUS
Karya: Ahmad Atian
“Kemenangan dakwah kampus bukanlah akhir dari segalanya, tetapi merupakan awal bagi proyek baru yang menanti.”
BAB 1. MUKADIMAH KEMENANGAN
Tugas menegakan amar makruf nahi munkar merupakan sesuatu yang sangat fundamental dalam islam. Melalui tugas inilah, Allah SWT menyeleksi kehidupan ini menjadi hitam dan putih, menjadi benar dan salah, menjadi berserah dan berserak, menjadi islam yang berlandaskan syukur dan jahil yang mencerminkan kufur. Dan melalui tugas inilah Allah memberikan gelar kepada umat ini khairu ummah (umat terbaik).
A. Sejarah Kita, Telaah Kembali Kita
Pemanfaatan kampus sebagai salah satu wahana dakwah islam sudah lama dilakukan. Pemanfaatan yang berkisar pada kader, alumni, pemikiran, fisik kampus, termasuk seluruh media yang ada telah sangat lama dijalankan dalam masyarakat islam. Hal ini telah bermula sejak masyarakat islam klasik. Kita mengenal dalam dalam sejarah islam klasik bagaimana universitas-universitas islam saat itu, yang tersebar di berbagai belahan dunia islam, berhasil melahirkan banyak pemikir dan pemikiran besar islam, menjadi corong pemikir dan pemikiran kritis islam, dan menjadi benteng utama peradaban islam. Dengan ini masyarakat islam mampu membangun peradaban besar yang ditakuti dan disegani.
Beberapa dekade terakhir, dakwah di kampus-kampus mulai bergulir di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Dakwah kampus di Indonesia telah dilakukan sejak prakemerdekaan hingga sekarang. Pada mulanya, dakwah kampus dijalankan secara individu, kemudian setelah disadari bahwa arus negatif tidak dapat dibendung hanya dengan sendirian dibentuklah perkumpulan-perkumpulan yang menjadi benih-benih awal pergerakan islam di kampus.
Seiring dengan berjalannya waktu, beberapa gerakan mahasiswa islam tercemari oleh berbagai pemikiran yang bertentangan dengan nilai-nilai islam, ditambah tekanan dari penguasa, manambah beban perjuangan. Akhirnya beberapa mahasiswa islam yang masih setia melakukan konsolidasi dan koordinasi terarah dan terpadu untuk menjaga imunitas islam. Mereka mengonsolidasi pergerakan dari bawah tanah dan memobilisasi massa mahasiswa islam melalui dakwah dan tarbiyah.
Euforia masa lalu dan dinamika keberhasilan masa lampau bisa jadi menyebabkan sebagian dari kita beranggapan inilah keberhasilan kita dan akhir dari tujuan kita. Di satu sisi, benar kita mesti berterima kasih pada masa lalu. Tetapi kita jangan lupa untuk menyusun mimpi esok hari.
Musuh kita sekarang lebih tersistem dan terorganisir, mengkultur, sangat pandai bersembunyi dan menipu, cerdas dan menguasai teknologi, mampu membungkam penguasa hingga aktivis dan mahasiswa, serangannya pun sangat halus dan jarang sekalai frontal.
1. Musuh kita hari ini hakikatnya adalah sebuah tatanan nilai
Tata nilai yang berlawanan dengan islam merupakan musuh kita, seperti neokapitalisme-neoliberalisme, KKN, malas, taklid buta, radikalisme, tidak demookratis, tidak adil, apatis, hedonis, otoriterisme gaya baru, penjajahan terselubung, dll.
2. Musuh kita hari ini sesungguhnya adalah diri kita sendiri
Musuh dari luar masih mudah dihadapi, tapi musuh dari kita sendiri bukan mudah untuk dihadapi. Musuh kita adalah sikap kita sendiri, yang tidak mau dewasa ( pesimis, malas, jumud, senang melanggar aturan, dll).
B. Pembaruan Dakwah Kampus, Sebuah Renovasi Cerdas-Paripurna
Pembaruan merupakan sebuah proses penyesuaian diri dengan realitas zaman agar kemudian semakin pasti melangkah menuju kemenangan esok hari. Pembaruan ini merupakan sebuah sunatullah, yang dengannya Allah menjalankan kehidupan. Dan perubahan tersebut akan menjadikan kehidupan lebih baik.
Perubahan merupakan jalan penuntasan mimpi (proses perwujudan keinginan-keinginan manusia). Sehingga pelaku perubahan merupakan “sang penuntas mimpi’, yaitu orang-orang yang istimewa, optimis, dan penuh keyakinan.
Dakwah kampus akan tetap bergerak dinamis ketika DK terus berupaya menyesuaikan diri dengan alam sekitar melalui pembaharuan, yang di situlah DK akan menemukan energi kehidupan menuju kemenangan DK.
Namun, pembaruan ini tidak akan pernah tercapai ketika kita belum berhasil melakukan perbaikan di internal diri, sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an surat Ar-ra’d ayat 11. Perbaikan internal ini pada hakikatnya adalah penempaan diri, pembangunan cita-cita, dan pengenalan prinsip.
Pembaruan mempunyai 4 rukun, yaitu:
1. Iman yang mendalam
2. Keikhlasan dalam perjuangan
3. Semangat yang menggelora
4. Kesiapan amal dan pengorbanan
C. Kita Hari Ini, Telaah Kritis DK Kontemporer
Terdap[at beberapa qadhiyah utama yang harus ditanggulangi, diantaranya:
1. Redupnya cahaya dakwah dan tarbiyah
2. Hilangnya kontribusi dan atau nilai kontribusi
3. Terjebak pada seremonial
4. Disorientasi
5. Trauma persepsi
D. Kemenangan DK, Cita-Cita Kita
Berbeda dengan kemenangan lain, kemenangan DK yang merupakan kemenangan islam, bukan akhir dari segalanya, tetapi menjadi awal bagi perjalanan selanjutnya. Dan kemenangna DK yang kita maksudkan adalah keterwujudan ruh islam dalam kehidupan bermasyarakat kampus, dimana nilai-nilai islam benar-benar mempengaruhi keseharian civitas akademica kampus.
Dan sesungguhnya terbiyah bertujuan untuk menemukan kesimpulan, kemudian kesimpulan, kemudian kesimpulan. Oleh karenanya, kemenangan DK merupakan awal bagi proyek baru yang menanti.
BAB 2. PERBAIKAN INTERNAL DAKWAH KAMPUS
A. Tahap 1
1. Back to Ashalah
Kemabali kepada nilai-nilai esensial dari 5 hal utama: islam, tarbiyah, dakwah fiqh dakwah, dan manhaj dakwah.
2. Menghapus trauma persepsi
Berbagai bentuk persepsi yang saat ini dialami DK yaitu:
• Trauma persepsi merasa superior
• Trauma persepsi merasa harus memimpin terus
• Trauma persepsi merasa senang bersuudzhan
• Trauma persepsi merasa tidak mau kreatif
• Persepsi yang salah, bahwa ketika kita kalah maka dakwah kalah.
3. Komitmen dengan sikap terbaik
DK membutuhkan komitmen pada sikap terbaik, sebagaimana umat islam mencapai kegemilangan pada masa lampau dengan komitmen kaum musliminin yang tinggi terhadap islam. Adapun komitmen yang dibutuhkan DK diantaranya adalah:
• Komitmen bahwa perjuangan semata-mata dilakukan demi Allah SWT.
• Komitmen terhadap pilihan jamaah
• Komitmen untuk saling melengkapi, bukannya berpecah.
• Komitmen terhadap pencarian jati diri (proses tarbiyah).
B. Tahap 2
1. Membuka kran komunikasi yang lebih baik dan kran informasi yang lebih sehat
Berapa banyak gerakan yang hancur karena komunikasi yang buruk di internal mereka. Oleh karenanya, di masa depan DK harus mampu mengoptimalisasikan sumber daya informasi-komunikasi yang ada.
2. Melahirkan kepemimpinan baru bagi dakwah di era baru
Kaderisasi sangat penting dalam dunia dakwah. Regenerasi dan kaderisasi kepemimpinan DK di era baru tidak hanya sekadar mendapat tim baru, tapi juga mampu melahirkan kepemimpinan baru bagi dakwah, yang kuat dan siap menerima tantangan.
3. Agent of Allah
Tujuan utama adanya kaderisasi DK adalah menciptakan kader yang berjuang untuk Allah, kader yang bertindak untuk kejayaan islam, dan kader inilah yang pasti akan menang dalam kehidupan. Dan fokus utama DK seharusnya bukanlah mencetak kader organisasi, pemikiran, dan kader lainnya, tetapi mencetak kader dakwah.
4. Totalitas Kaderisasi
“Kader adalah rahasia kehidupan bagi umat,. Sejarah umat adalah sejarah para kader yang miltan dan memiliki kekuatan jiwa serta kehendak. Sesungguhnya kuat lemahnya suatu umat diukur dari sejauh mana kesuburan umat tersebut dalam mengahasilkan kader-kader yang memiliki sifat kesatria.” (Risalah Hal Nahnu Qaumun ‘Amaliyun)
Hidup untuk kemenangan DK berarti hidup untuk totalitas kaderisasi DK. Perangkat yang akan menjadi fondasi, pilar, batang tubuh, dan tulang punggung dari proyek pemenangan tersebut adalah kader.
Bab 3. Pembaruan Dakwah Kampus
Untuk mencapai kemenangan dakwah kampus ini, diperlukan enam kerangka strategis yang merupakan format dakwah kampus masa depan:
1. Dakwah prestatif
DK kedepan diharapkan dapat memenuhi kualifikasi ni, yakni dakwah prestatif. Melihat dinamika kehidupan diperlukannya DK yang prestatif. Yaitu dengan memaksimalkan potensi diri dan sumber daya yang ada.
2. Creative majority
3. Dakwah kaya
4. Ketokohan sosial
5. Kepemimpinan sejati
6. Maksimalisasi peran mujahidah dakwah kampus
Enam kerangka strategis dakwah kampus ini bisa dicapai dengan terlebih dahulu melakukan perbaikan internal dakwah kampus melalui dua tahap dalam bab 2
Karya: Ahmad Atian
“Kemenangan dakwah kampus bukanlah akhir dari segalanya, tetapi merupakan awal bagi proyek baru yang menanti.”
BAB 1. MUKADIMAH KEMENANGAN
Tugas menegakan amar makruf nahi munkar merupakan sesuatu yang sangat fundamental dalam islam. Melalui tugas inilah, Allah SWT menyeleksi kehidupan ini menjadi hitam dan putih, menjadi benar dan salah, menjadi berserah dan berserak, menjadi islam yang berlandaskan syukur dan jahil yang mencerminkan kufur. Dan melalui tugas inilah Allah memberikan gelar kepada umat ini khairu ummah (umat terbaik).
A. Sejarah Kita, Telaah Kembali Kita
Pemanfaatan kampus sebagai salah satu wahana dakwah islam sudah lama dilakukan. Pemanfaatan yang berkisar pada kader, alumni, pemikiran, fisik kampus, termasuk seluruh media yang ada telah sangat lama dijalankan dalam masyarakat islam. Hal ini telah bermula sejak masyarakat islam klasik. Kita mengenal dalam dalam sejarah islam klasik bagaimana universitas-universitas islam saat itu, yang tersebar di berbagai belahan dunia islam, berhasil melahirkan banyak pemikir dan pemikiran besar islam, menjadi corong pemikir dan pemikiran kritis islam, dan menjadi benteng utama peradaban islam. Dengan ini masyarakat islam mampu membangun peradaban besar yang ditakuti dan disegani.
Beberapa dekade terakhir, dakwah di kampus-kampus mulai bergulir di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Dakwah kampus di Indonesia telah dilakukan sejak prakemerdekaan hingga sekarang. Pada mulanya, dakwah kampus dijalankan secara individu, kemudian setelah disadari bahwa arus negatif tidak dapat dibendung hanya dengan sendirian dibentuklah perkumpulan-perkumpulan yang menjadi benih-benih awal pergerakan islam di kampus.
Seiring dengan berjalannya waktu, beberapa gerakan mahasiswa islam tercemari oleh berbagai pemikiran yang bertentangan dengan nilai-nilai islam, ditambah tekanan dari penguasa, manambah beban perjuangan. Akhirnya beberapa mahasiswa islam yang masih setia melakukan konsolidasi dan koordinasi terarah dan terpadu untuk menjaga imunitas islam. Mereka mengonsolidasi pergerakan dari bawah tanah dan memobilisasi massa mahasiswa islam melalui dakwah dan tarbiyah.
Euforia masa lalu dan dinamika keberhasilan masa lampau bisa jadi menyebabkan sebagian dari kita beranggapan inilah keberhasilan kita dan akhir dari tujuan kita. Di satu sisi, benar kita mesti berterima kasih pada masa lalu. Tetapi kita jangan lupa untuk menyusun mimpi esok hari.
Musuh kita sekarang lebih tersistem dan terorganisir, mengkultur, sangat pandai bersembunyi dan menipu, cerdas dan menguasai teknologi, mampu membungkam penguasa hingga aktivis dan mahasiswa, serangannya pun sangat halus dan jarang sekalai frontal.
1. Musuh kita hari ini hakikatnya adalah sebuah tatanan nilai
Tata nilai yang berlawanan dengan islam merupakan musuh kita, seperti neokapitalisme-neoliberalisme, KKN, malas, taklid buta, radikalisme, tidak demookratis, tidak adil, apatis, hedonis, otoriterisme gaya baru, penjajahan terselubung, dll.
2. Musuh kita hari ini sesungguhnya adalah diri kita sendiri
Musuh dari luar masih mudah dihadapi, tapi musuh dari kita sendiri bukan mudah untuk dihadapi. Musuh kita adalah sikap kita sendiri, yang tidak mau dewasa ( pesimis, malas, jumud, senang melanggar aturan, dll).
B. Pembaruan Dakwah Kampus, Sebuah Renovasi Cerdas-Paripurna
Pembaruan merupakan sebuah proses penyesuaian diri dengan realitas zaman agar kemudian semakin pasti melangkah menuju kemenangan esok hari. Pembaruan ini merupakan sebuah sunatullah, yang dengannya Allah menjalankan kehidupan. Dan perubahan tersebut akan menjadikan kehidupan lebih baik.
Perubahan merupakan jalan penuntasan mimpi (proses perwujudan keinginan-keinginan manusia). Sehingga pelaku perubahan merupakan “sang penuntas mimpi’, yaitu orang-orang yang istimewa, optimis, dan penuh keyakinan.
Dakwah kampus akan tetap bergerak dinamis ketika DK terus berupaya menyesuaikan diri dengan alam sekitar melalui pembaharuan, yang di situlah DK akan menemukan energi kehidupan menuju kemenangan DK.
Namun, pembaruan ini tidak akan pernah tercapai ketika kita belum berhasil melakukan perbaikan di internal diri, sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an surat Ar-ra’d ayat 11. Perbaikan internal ini pada hakikatnya adalah penempaan diri, pembangunan cita-cita, dan pengenalan prinsip.
Pembaruan mempunyai 4 rukun, yaitu:
1. Iman yang mendalam
2. Keikhlasan dalam perjuangan
3. Semangat yang menggelora
4. Kesiapan amal dan pengorbanan
C. Kita Hari Ini, Telaah Kritis DK Kontemporer
Terdap[at beberapa qadhiyah utama yang harus ditanggulangi, diantaranya:
1. Redupnya cahaya dakwah dan tarbiyah
2. Hilangnya kontribusi dan atau nilai kontribusi
3. Terjebak pada seremonial
4. Disorientasi
5. Trauma persepsi
D. Kemenangan DK, Cita-Cita Kita
Berbeda dengan kemenangan lain, kemenangan DK yang merupakan kemenangan islam, bukan akhir dari segalanya, tetapi menjadi awal bagi perjalanan selanjutnya. Dan kemenangna DK yang kita maksudkan adalah keterwujudan ruh islam dalam kehidupan bermasyarakat kampus, dimana nilai-nilai islam benar-benar mempengaruhi keseharian civitas akademica kampus.
Dan sesungguhnya terbiyah bertujuan untuk menemukan kesimpulan, kemudian kesimpulan, kemudian kesimpulan. Oleh karenanya, kemenangan DK merupakan awal bagi proyek baru yang menanti.
BAB 2. PERBAIKAN INTERNAL DAKWAH KAMPUS
A. Tahap 1
1. Back to Ashalah
Kemabali kepada nilai-nilai esensial dari 5 hal utama: islam, tarbiyah, dakwah fiqh dakwah, dan manhaj dakwah.
2. Menghapus trauma persepsi
Berbagai bentuk persepsi yang saat ini dialami DK yaitu:
• Trauma persepsi merasa superior
• Trauma persepsi merasa harus memimpin terus
• Trauma persepsi merasa senang bersuudzhan
• Trauma persepsi merasa tidak mau kreatif
• Persepsi yang salah, bahwa ketika kita kalah maka dakwah kalah.
3. Komitmen dengan sikap terbaik
DK membutuhkan komitmen pada sikap terbaik, sebagaimana umat islam mencapai kegemilangan pada masa lampau dengan komitmen kaum musliminin yang tinggi terhadap islam. Adapun komitmen yang dibutuhkan DK diantaranya adalah:
• Komitmen bahwa perjuangan semata-mata dilakukan demi Allah SWT.
• Komitmen terhadap pilihan jamaah
• Komitmen untuk saling melengkapi, bukannya berpecah.
• Komitmen terhadap pencarian jati diri (proses tarbiyah).
B. Tahap 2
1. Membuka kran komunikasi yang lebih baik dan kran informasi yang lebih sehat
Berapa banyak gerakan yang hancur karena komunikasi yang buruk di internal mereka. Oleh karenanya, di masa depan DK harus mampu mengoptimalisasikan sumber daya informasi-komunikasi yang ada.
2. Melahirkan kepemimpinan baru bagi dakwah di era baru
Kaderisasi sangat penting dalam dunia dakwah. Regenerasi dan kaderisasi kepemimpinan DK di era baru tidak hanya sekadar mendapat tim baru, tapi juga mampu melahirkan kepemimpinan baru bagi dakwah, yang kuat dan siap menerima tantangan.
3. Agent of Allah
Tujuan utama adanya kaderisasi DK adalah menciptakan kader yang berjuang untuk Allah, kader yang bertindak untuk kejayaan islam, dan kader inilah yang pasti akan menang dalam kehidupan. Dan fokus utama DK seharusnya bukanlah mencetak kader organisasi, pemikiran, dan kader lainnya, tetapi mencetak kader dakwah.
4. Totalitas Kaderisasi
“Kader adalah rahasia kehidupan bagi umat,. Sejarah umat adalah sejarah para kader yang miltan dan memiliki kekuatan jiwa serta kehendak. Sesungguhnya kuat lemahnya suatu umat diukur dari sejauh mana kesuburan umat tersebut dalam mengahasilkan kader-kader yang memiliki sifat kesatria.” (Risalah Hal Nahnu Qaumun ‘Amaliyun)
Hidup untuk kemenangan DK berarti hidup untuk totalitas kaderisasi DK. Perangkat yang akan menjadi fondasi, pilar, batang tubuh, dan tulang punggung dari proyek pemenangan tersebut adalah kader.
Bab 3. Pembaruan Dakwah Kampus
Untuk mencapai kemenangan dakwah kampus ini, diperlukan enam kerangka strategis yang merupakan format dakwah kampus masa depan:
1. Dakwah prestatif
DK kedepan diharapkan dapat memenuhi kualifikasi ni, yakni dakwah prestatif. Melihat dinamika kehidupan diperlukannya DK yang prestatif. Yaitu dengan memaksimalkan potensi diri dan sumber daya yang ada.
2. Creative majority
3. Dakwah kaya
4. Ketokohan sosial
5. Kepemimpinan sejati
6. Maksimalisasi peran mujahidah dakwah kampus
Enam kerangka strategis dakwah kampus ini bisa dicapai dengan terlebih dahulu melakukan perbaikan internal dakwah kampus melalui dua tahap dalam bab 2
Sabtu, 25 Juni 2011
Phinisi Milik Indonesia Slideshow
Phinisi Milik Indonesia Slideshow: "TripAdvisor™ TripWow ★ Phinisi Milik Indonesia Slideshow ★ to Sulawesi. Stunning free travel slideshows on TripAdvisor"
Senin, 20 Juni 2011
KOMITMEN MUSLIM SEJATI
(Karya: Fathi Yakan)APA ARTINYA SAYA MENGAKU MUSLIM?
Pengakuan sebagai muslim bukanlah klaim terhadap pewarisan, bukan klaim terhadap suatu identitas, juga bukan klaim terhadap suatu penampilan lahir, melainkan pengakuan untuk menjadi penganut islam, berkomitmen kepada islam, dan beradaptasi dengan islam dalam setiap aspek kehidupan.
“Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia.” (Al-Haj: 78)
Adapun karakteristik yang harus dimiliki agar menjasi seorang muslim sejati adalah sebagai berikut:
1. Saya harus mengislamkan aqidah saya
Syarat pertama pengakuan sebagai muslim dan sebagai pemeluk agama ini adalah hendaknya aqidah seorang muslim adalah aqidah yang baik dan shahih, selaras dengan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan sunah Rasulullah SAW. Ia harus menginmani apa yang diimani kaum muslimin pertama, para salafussaleh, dan para imam yang telah diakui kebaikan, kesalehan, ketaqwaan, dan pemahaman mereka yang lurus mengenai agama Allah Azza wa Jalla.
Untuk mengislamkan aqidah saya, maka konsekuensinya adalah sebagai berikut:
• Saya harus meyakini bahwa pencipta alam ini adalah Allah yang Hakim (Mahabijaksana), Qadir (Mahakuasa), ‘Alim (Mahatahu), dan Qayum (Selalu Mengurus Mahluk-Nya) dengan bukti adanya keindahan, kesempurnaan, keserasian, dan ketergantungan sebagiannya kepada sebagian lain yang mustahil ia bisa bertahan dan terus ada tanpa dikendalikan oleh Tuhan Al-‘Aliy (Yang Mahatinggi) dan Al-Qadir (Yang Mahakuasa) ini.
• Saya harus mengimani bahwa Al-Khaliq (Sang Maha Pencipta tidak menciptakan alam semesta ini secara sia-sia, karena tidak mungkin terjadi dzat yang menyandang kesempurnaan itu berbuat sia-sia dalam apa yang diciptakan-Nya. Namun adalah mustahil untuk memahami kehendak Allah terhadap penciptaan ini secara perinci, kecuali melalui informasi dari Rasulullah SAW dan wahyu.
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang mulia (Al-Mukminun: 115-116)
• Saya harus meyakini bahwa Allah SWT telah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab untuk mengenalkan manusia kepada pengetahuan tentang Dia, tujuan penciptaan mereka, awal kejadian mereka, dan tempat kembali mereka. Yang terakhir diantara para rasul yang mulia tersebbut adalah Muhammad SAW yang telah dikuatkan Allah SWT dengan Al-Qur’an Al-Karim yang merupakan “mukjizat yang abadi”.
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul kepada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah taghut itu,” Maka diantara umat-umat itu ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan adapula orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. (An-Nahl:36)
• Saya harus meyakini bahwa tujuan keberadaan manusia ini adalah mengenal Allah SWT (sebagaimana yang telah Ia sifatkan bagi diri-Nya), menaati-Nya dan beribadah kepada-Nya. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki, yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh. (Adz-Dzariyat: 56-58)
• Saya harus meyakini bahwa balasan bagi orang mukmin yang taat adalah syurga, sedangkan balasan bagi orang kafir yang bermaksiat adalah neraka.
Segolongan masuk syurga dan segolongan masuk neraka. (Asy-syura: 7)
• Sya meyakini bahwa manusia mengerjakan kebajikan dan kejahatan dengan ikhtiar dan kehendaknya, akan tetapi ia tidak akan bisa melaksanakan kebaikan kecuali dengan Taufiq dan pertolongan Allah. Ia tidak melaksanakan kejahatan semata-mata karena paksaan dari Allah, akan tetapi dalam kerangka izin dan kehendak-Nya.
Dan demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan pada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menycikan jiwa dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Asy-syams: 7-10)
• Saya harus meyakini bahwa menetapkan syari’at adalah hak Allah yang tidak boleh dilanggar. Seorang ulama muslim boleh berijtihad dalam menyimpulkan hukum dalam kerangka apa yang disyari’atkan oleh Allah.
• Saya harus mengakui nama-nama dan sifat-sifat Allah yang selaras dengan keagungan-Nya. Diriwayatkan dari Aabu Hurairah r.a. yang berkata bahwa Rasululla SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama - seratus kurang satu – tidak seorangpun menghafalnya kecuali ia masuk syurga. Dia witir dan mencintai apa yang witir (ganjil). (HR. Bukhori dan Muslim)
• Saya harus bertafakur (merenungkan) mengenai ciptaan Allah, bukan mengenai Dat-Nya, sebagai pelaksanaan sabda rasul, Berpikirlah tentang ciptaan Allah, tetapi jangan berpikir tentang Allah, karena kalian tidak mungkin mengenal dengan sebenar-benar pengetahuan mengenai-Nya. (HR. Abu Nua’aim)
• Sifat-sifat Allah telah banyak diisyaratkan oleh Alqur’an dan merupakan sifat-sifat yang dituntut oleh kesempurnaan uluhiyah (ketuhanan). Ada ayat-ayat yang yang mengisyaratkan tentang wujud Allah. Ada ayat-ayat yang mengisyaratkan tentang sifat Baqa (kekal) dan Qadim (terdahulu) bagi Allah. Ada ayat-ayat yang mengisyaratkan bahwa Allah berbeda dari semua makhluk-makhluk-Nya. Ada ayat yang mengisyaratkan kemahasucian-Nya dari anak, bapak, serupaan, dan setaraan. Ada pula ayat-ayat yang mengisyaratkan bahwa sifat-sifat dan kesempurnaan-kesempurnaan Allah tidak terbatas, dan substansinya tidak dapat dipahami oleh akal manusia. Mahasuci Allah, kita tidak dapat menghitung pujian untuk-Nya seperti pujian yang Ia tujukan untuk diri-Nya sendiri.
• Saya meyakini bahwa pendapat para salaf lebih utama untuk diikuti, khususnya dalam persoalan takwil dan ta’thil, serta menyerahkan pengetahuan mengenai makna-makna ini kepada Allah. Juga bahwa berbagai takwil yang dikemukakan oleh orang-orang belakangan (khalaf) tidak harus menyebabkan dijatuhkannya vonis kafir atau fasik bagi mereka, dan tidak perlu dijadikan perselisihan panjang antara satu pihak dengan pihak lainnya sebagaimana terjadi pada masa dahulu maupun sekarang.
• Saya harus beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, sebagai bentuk sambutan kita terhadap seruan Allah untuk mengikuti risalah dan para rasul, yang menyerukan beribadah hanya kepada-Nya dan tidak tunduk kepada selain-Nya.
• Saya takut kepada-Nya dan tidak takut kepada selain-Nya. Rasa takutku kepada-Nya harus mendorongku untuk menjauhi yang dimurkai dan apa yang diharamkan-Nya. \
• Saya harus mengingat-Nya dan senantiasa harus mengingat-Nya. Diamku harus merupakan berpikir dan bicaraku merupakan zikir. Dzikrullah merupakan penawar jiwa yang paling kuat dan senjata yang paling tajam dalam menghadapi tantangan-tantangan zaman, kesusahan-kesusahan hidup, dan bencana-bencananya. Inilah yang dibutuhkan oleh semua manusia pada hari ini.
• Saya harus mencitai Allah dengan kecintaan yang menjadikan hatiku senantiasa merindukan keagungan-Nya, tertambat kepada-Nya sehingga mendorongku untuk senatiasa menambah kebaikan, berkorban, dan berjihad di jalan-Nya selama-lamanya. Cinta saya tidak boleh dihalangi oleh kecintaan kepada kekayaan dunia maupun keluarga.
• Saya harus bertawakal kepada Allah dalam segala keadaan dan menggantungkan diri kepada-Nya dalam segala urusan. Sikat ini akan menumbuhkan kekuatan dan spirit di dalam diriku yang bisa memudahkanku dalam menghadapi berbagai kesulitan. Ia juga merupakan salah satu hal yang paling indah.
• Saya harus bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya yang tak terhingga serta segala karunia dan rahmat-Nya yang tak terhitung. Syukur adalah salah satu sifat santun seseorang kepada Tuhan yang telah memberikan nikmat, kebaikan, dan karunia.
• Saya harus beristighfar memohon ampunan Allah dan senantiasa beristigfar. Istigfar merupakan kafarah (hal yang menghapuskan dosa), memperbaharui tobat dan iman, dan menumbuhklan perasaan tenang dan tentram.
• Saya harus menyadari muraqabah (pengawasan) Allah baik dalam keadaan sendiri maupun berada di tengah-tengah manusia.
2. Saya Harus Mengislamkan Ibadah Saya
Dalam islam, ibadah adalah puncak ketundukan dan puncak kesadaran mengenai keagungan ma’bud (Tuhan yang disembah). Ia merupakan tangga yang menghubungkan makhluq dengan khaliq. Ia juga memiliki pengaruh-pengaruh yang mendalam dalam interaksi antar sesama hamba Allah. Dalam hal itu seluruh rukun islam seperti shalat, zakat, puasa, dan haji memiliki kedudukan yang sama dengan seluruh amalan lain yang seyogiyanya manusia melaksanakannya untuk mencari ridha Allah dan mengikuti tuntunan syari’at-Nya.
Untuk mengislamkan ibadahku, maka konsekuensinya adalah:
1. Ibadahku harus hidup dan tersambung kepada Allah. Inilah derajat ihsan dalam ibadah.
2. Ibadahku harus khusyuk, sehingga saya bisa menghayati kehangatan komunikasi dengan Allah dan nikmatnya kekhusyuan.
3. Dalam beribadah, hatu saya harus hadir sepenuh hati, melepaskan pikiran dari sekelilingku, yaitu segala kesibukan dan keinginan diniawi.
4. Dalam beribadah, saya harus tamak, tidak boleh puas atau rakus, tidk pernah kenyang.
5. Saya memiliki keinginan yang besar untuk melaksanakan shalat malam serta meltih diri untuk melaksanakannya sampai terbiasa, karena shalat malam merupakan salah satu mesin keimanan yang paling besar.
6. Hendaklah saya menyediakan waktu untuk membaca dan merenungkan Al-Qur’an khususnya pada waktu fajar.
7. Doa harus menjadi tangga bagiku untuk memohon kepada Allah dalam setiap keadaan. Doa adalah intisari ibadah.
3. Saya Harus Mengislamkan Akhlaq Saya
Berakhlaq mulia merupakan tujuan pokok dari risalah islam. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasulullah dalam sebuah haditsnya, “Sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlaq manusia.” (HR. Ahmad)
Akhlaq manusia merupakan bukti dan buah keimanan. Keimanan tidak ada nilainya tanpa akhlaq, inilah yang diisyaratkan rasul dalam sabdanya: “Iman bukanlah dengan angan-angan, akan tetapi apa yang bersemayam di hati dan dibuktikan dengan perbuatan.” (HR. Dailami)
Rasulullah pernah ditanya, “Apakah agama itu?”
Beliau menjawab, “Akhlaq yang baik.”
Kemudian beliau ditanya tentang kesialan. Beliau menjawab, “Akhlaq yang buruk”.
Akhlaq akan menjadikan timbangan amal seorang hamba menjadi berat pada hari kiamat. Barangsiapa memiliki akhlaq dan amalan yang buruk, maka nasabnya tidak akan mempercepatnya masuk syurga. Akhlaq mulia adalah buah ibadah dalam islam.
Kemudian dintara sifat-sifat yang seyogiyanya terdapat pada seseorang agar dia berakhlaq islami adalah sebagai berikut;
a. Bersifat wara’ (hati-hati) terhadap syubhat.
b. Menahan pandangan (Ggadhul Bashar).
c. Menjaga lidah.
d. Malu (haya’)
e. Pemaaf dan sabar
f. Jujur
g. Rendah hati
h. Menjauhi prasangka, ghibah, dan mencari cela sesama muslim.
i. Dermawan dan pemurah
j. Menjadi teladan yang baik.
4. Saya Harus Mengislamkan Keluarga dan Rumah Tangga Saya
Pengakuan sebagai muslim harus menjadikan saya sebagai pemilik risalah islam ini dalam seluruh kehidupan. Bahkan saya harus menjadikan seluruh hidup dikendalikan sesuai dengan ajaran risalah ini.
Tidaklah cukup saya menjadi muslim seorang diri, tanpa mempedulikan orang-orang di sekelilingku. Sebab, salah satu pengaruh yang ditumbuhkan oleh ajaran islam di dalam jiwa manusia, jika ia beriman dan berbuat ihsan, adalah sikap memperhatikan orang lain, menmgajak mereka, menasihati mereka, dan memiliki sikap pemebelaan terhadap mereka.
Karena itu, tugas pertama bagi seorang muslim setelah dirinya sendiri adalah bertanggung jawab terhadap keluarga, rumah tangganya, dan anak-anaknya.
5. Saya Harus Mengalahkan Hawa Nafsu Saya
Manusia senantiasa dalam pergulatan melawan hawa nafsunya, sehingga ia bisa mengalahkan hawa nafsunya, atau hawa nafsu itu yang mengalahkannya.
Adapun perangkat-perangkat untuk memenangkan pertarungan melawan hawa nafsu adalah:
a. Hati
b. Akal
Untuk membantu manusia dalam menghadapi tantangan-tantangan dan godaan setan dan iblis islam telah memberikan banyak petunjuk yang bisa membantunya untuk bertahan dan mengalahkan musuhnya yang paling jahat tersebut. Petunjuk-petunjuk itu secara global telah disebutkan oleh salah satu ulama yang shaleh dengan ucapannya, “saya telah merenungkan dan berpikir, dari pintu manakah setan mendatangi manusia, maka ia datang dari sepuluh pintu:
Pertama, ambisi dan buruk sangka, maka saya menghadapinya dengan sikap percaya dan menerima.
Kedua, kecintaan terhadap hidup yang panjang dan angan-angan, maka saya menhadapinya dengan rasa takut terhadap datangnya kematian secara tiba-tiba.
Ketiga, keinginan untuk santai dan bersenang-senang, maka saya menhadapinya dengan menyadari hilangnya nikmat dan keburukan hisab.
keempat, bangga diri, maka saya menhadapinya dengan mengingat karunia dan rasa takut kepada akibat yang akan menimpa.
Kelima, sikap meremehkan dan kurang menghargai orang lain, maka saya menhadapinya dengan menganali hak dan kehormatan mereka.
Keenam, dengki, maka saya menhadapinya dengan sikap menerima dan rela.
Ketujuh, Riya’, maka saya menhadapinya dengan keikhlasan.
Kedelapan, kikir, maka saya menhadapinya dengan menyadari akan sirnanya semua yang ada di tangan makhluk.
Kesembilan, sombong, maka saya menhadapinya dengan sikap rendah hati.
Kesepuluh, tamak, maka saya menhadapinya dengan percaya dengan apa yang ada di sisi Allah dan bersikap zuhud terhadap apa yang menjadi milik manusia.”
Langganan:
Komentar (Atom)