KOMITMEN MUSLIM SEJATI
(Karya: Fathi Yakan)APA ARTINYA SAYA MENGAKU MUSLIM?
Pengakuan sebagai muslim bukanlah klaim terhadap pewarisan, bukan klaim terhadap suatu identitas, juga bukan klaim terhadap suatu penampilan lahir, melainkan pengakuan untuk menjadi penganut islam, berkomitmen kepada islam, dan beradaptasi dengan islam dalam setiap aspek kehidupan.
“Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia.” (Al-Haj: 78)
Adapun karakteristik yang harus dimiliki agar menjasi seorang muslim sejati adalah sebagai berikut:
1. Saya harus mengislamkan aqidah saya
Syarat pertama pengakuan sebagai muslim dan sebagai pemeluk agama ini adalah hendaknya aqidah seorang muslim adalah aqidah yang baik dan shahih, selaras dengan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan sunah Rasulullah SAW. Ia harus menginmani apa yang diimani kaum muslimin pertama, para salafussaleh, dan para imam yang telah diakui kebaikan, kesalehan, ketaqwaan, dan pemahaman mereka yang lurus mengenai agama Allah Azza wa Jalla.
Untuk mengislamkan aqidah saya, maka konsekuensinya adalah sebagai berikut:
• Saya harus meyakini bahwa pencipta alam ini adalah Allah yang Hakim (Mahabijaksana), Qadir (Mahakuasa), ‘Alim (Mahatahu), dan Qayum (Selalu Mengurus Mahluk-Nya) dengan bukti adanya keindahan, kesempurnaan, keserasian, dan ketergantungan sebagiannya kepada sebagian lain yang mustahil ia bisa bertahan dan terus ada tanpa dikendalikan oleh Tuhan Al-‘Aliy (Yang Mahatinggi) dan Al-Qadir (Yang Mahakuasa) ini.
• Saya harus mengimani bahwa Al-Khaliq (Sang Maha Pencipta tidak menciptakan alam semesta ini secara sia-sia, karena tidak mungkin terjadi dzat yang menyandang kesempurnaan itu berbuat sia-sia dalam apa yang diciptakan-Nya. Namun adalah mustahil untuk memahami kehendak Allah terhadap penciptaan ini secara perinci, kecuali melalui informasi dari Rasulullah SAW dan wahyu.
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang mulia (Al-Mukminun: 115-116)
• Saya harus meyakini bahwa Allah SWT telah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab untuk mengenalkan manusia kepada pengetahuan tentang Dia, tujuan penciptaan mereka, awal kejadian mereka, dan tempat kembali mereka. Yang terakhir diantara para rasul yang mulia tersebbut adalah Muhammad SAW yang telah dikuatkan Allah SWT dengan Al-Qur’an Al-Karim yang merupakan “mukjizat yang abadi”.
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul kepada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah taghut itu,” Maka diantara umat-umat itu ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan adapula orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. (An-Nahl:36)
• Saya harus meyakini bahwa tujuan keberadaan manusia ini adalah mengenal Allah SWT (sebagaimana yang telah Ia sifatkan bagi diri-Nya), menaati-Nya dan beribadah kepada-Nya. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki, yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh. (Adz-Dzariyat: 56-58)
• Saya harus meyakini bahwa balasan bagi orang mukmin yang taat adalah syurga, sedangkan balasan bagi orang kafir yang bermaksiat adalah neraka.
Segolongan masuk syurga dan segolongan masuk neraka. (Asy-syura: 7)
• Sya meyakini bahwa manusia mengerjakan kebajikan dan kejahatan dengan ikhtiar dan kehendaknya, akan tetapi ia tidak akan bisa melaksanakan kebaikan kecuali dengan Taufiq dan pertolongan Allah. Ia tidak melaksanakan kejahatan semata-mata karena paksaan dari Allah, akan tetapi dalam kerangka izin dan kehendak-Nya.
Dan demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan pada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menycikan jiwa dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Asy-syams: 7-10)
• Saya harus meyakini bahwa menetapkan syari’at adalah hak Allah yang tidak boleh dilanggar. Seorang ulama muslim boleh berijtihad dalam menyimpulkan hukum dalam kerangka apa yang disyari’atkan oleh Allah.
• Saya harus mengakui nama-nama dan sifat-sifat Allah yang selaras dengan keagungan-Nya. Diriwayatkan dari Aabu Hurairah r.a. yang berkata bahwa Rasululla SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama - seratus kurang satu – tidak seorangpun menghafalnya kecuali ia masuk syurga. Dia witir dan mencintai apa yang witir (ganjil). (HR. Bukhori dan Muslim)
• Saya harus bertafakur (merenungkan) mengenai ciptaan Allah, bukan mengenai Dat-Nya, sebagai pelaksanaan sabda rasul, Berpikirlah tentang ciptaan Allah, tetapi jangan berpikir tentang Allah, karena kalian tidak mungkin mengenal dengan sebenar-benar pengetahuan mengenai-Nya. (HR. Abu Nua’aim)
• Sifat-sifat Allah telah banyak diisyaratkan oleh Alqur’an dan merupakan sifat-sifat yang dituntut oleh kesempurnaan uluhiyah (ketuhanan). Ada ayat-ayat yang yang mengisyaratkan tentang wujud Allah. Ada ayat-ayat yang mengisyaratkan tentang sifat Baqa (kekal) dan Qadim (terdahulu) bagi Allah. Ada ayat-ayat yang mengisyaratkan bahwa Allah berbeda dari semua makhluk-makhluk-Nya. Ada ayat yang mengisyaratkan kemahasucian-Nya dari anak, bapak, serupaan, dan setaraan. Ada pula ayat-ayat yang mengisyaratkan bahwa sifat-sifat dan kesempurnaan-kesempurnaan Allah tidak terbatas, dan substansinya tidak dapat dipahami oleh akal manusia. Mahasuci Allah, kita tidak dapat menghitung pujian untuk-Nya seperti pujian yang Ia tujukan untuk diri-Nya sendiri.
• Saya meyakini bahwa pendapat para salaf lebih utama untuk diikuti, khususnya dalam persoalan takwil dan ta’thil, serta menyerahkan pengetahuan mengenai makna-makna ini kepada Allah. Juga bahwa berbagai takwil yang dikemukakan oleh orang-orang belakangan (khalaf) tidak harus menyebabkan dijatuhkannya vonis kafir atau fasik bagi mereka, dan tidak perlu dijadikan perselisihan panjang antara satu pihak dengan pihak lainnya sebagaimana terjadi pada masa dahulu maupun sekarang.
• Saya harus beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, sebagai bentuk sambutan kita terhadap seruan Allah untuk mengikuti risalah dan para rasul, yang menyerukan beribadah hanya kepada-Nya dan tidak tunduk kepada selain-Nya.
• Saya takut kepada-Nya dan tidak takut kepada selain-Nya. Rasa takutku kepada-Nya harus mendorongku untuk menjauhi yang dimurkai dan apa yang diharamkan-Nya. \
• Saya harus mengingat-Nya dan senantiasa harus mengingat-Nya. Diamku harus merupakan berpikir dan bicaraku merupakan zikir. Dzikrullah merupakan penawar jiwa yang paling kuat dan senjata yang paling tajam dalam menghadapi tantangan-tantangan zaman, kesusahan-kesusahan hidup, dan bencana-bencananya. Inilah yang dibutuhkan oleh semua manusia pada hari ini.
• Saya harus mencitai Allah dengan kecintaan yang menjadikan hatiku senantiasa merindukan keagungan-Nya, tertambat kepada-Nya sehingga mendorongku untuk senatiasa menambah kebaikan, berkorban, dan berjihad di jalan-Nya selama-lamanya. Cinta saya tidak boleh dihalangi oleh kecintaan kepada kekayaan dunia maupun keluarga.
• Saya harus bertawakal kepada Allah dalam segala keadaan dan menggantungkan diri kepada-Nya dalam segala urusan. Sikat ini akan menumbuhkan kekuatan dan spirit di dalam diriku yang bisa memudahkanku dalam menghadapi berbagai kesulitan. Ia juga merupakan salah satu hal yang paling indah.
• Saya harus bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya yang tak terhingga serta segala karunia dan rahmat-Nya yang tak terhitung. Syukur adalah salah satu sifat santun seseorang kepada Tuhan yang telah memberikan nikmat, kebaikan, dan karunia.
• Saya harus beristighfar memohon ampunan Allah dan senantiasa beristigfar. Istigfar merupakan kafarah (hal yang menghapuskan dosa), memperbaharui tobat dan iman, dan menumbuhklan perasaan tenang dan tentram.
• Saya harus menyadari muraqabah (pengawasan) Allah baik dalam keadaan sendiri maupun berada di tengah-tengah manusia.
2. Saya Harus Mengislamkan Ibadah Saya
Dalam islam, ibadah adalah puncak ketundukan dan puncak kesadaran mengenai keagungan ma’bud (Tuhan yang disembah). Ia merupakan tangga yang menghubungkan makhluq dengan khaliq. Ia juga memiliki pengaruh-pengaruh yang mendalam dalam interaksi antar sesama hamba Allah. Dalam hal itu seluruh rukun islam seperti shalat, zakat, puasa, dan haji memiliki kedudukan yang sama dengan seluruh amalan lain yang seyogiyanya manusia melaksanakannya untuk mencari ridha Allah dan mengikuti tuntunan syari’at-Nya.
Untuk mengislamkan ibadahku, maka konsekuensinya adalah:
1. Ibadahku harus hidup dan tersambung kepada Allah. Inilah derajat ihsan dalam ibadah.
2. Ibadahku harus khusyuk, sehingga saya bisa menghayati kehangatan komunikasi dengan Allah dan nikmatnya kekhusyuan.
3. Dalam beribadah, hatu saya harus hadir sepenuh hati, melepaskan pikiran dari sekelilingku, yaitu segala kesibukan dan keinginan diniawi.
4. Dalam beribadah, saya harus tamak, tidak boleh puas atau rakus, tidk pernah kenyang.
5. Saya memiliki keinginan yang besar untuk melaksanakan shalat malam serta meltih diri untuk melaksanakannya sampai terbiasa, karena shalat malam merupakan salah satu mesin keimanan yang paling besar.
6. Hendaklah saya menyediakan waktu untuk membaca dan merenungkan Al-Qur’an khususnya pada waktu fajar.
7. Doa harus menjadi tangga bagiku untuk memohon kepada Allah dalam setiap keadaan. Doa adalah intisari ibadah.
3. Saya Harus Mengislamkan Akhlaq Saya
Berakhlaq mulia merupakan tujuan pokok dari risalah islam. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasulullah dalam sebuah haditsnya, “Sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlaq manusia.” (HR. Ahmad)
Akhlaq manusia merupakan bukti dan buah keimanan. Keimanan tidak ada nilainya tanpa akhlaq, inilah yang diisyaratkan rasul dalam sabdanya: “Iman bukanlah dengan angan-angan, akan tetapi apa yang bersemayam di hati dan dibuktikan dengan perbuatan.” (HR. Dailami)
Rasulullah pernah ditanya, “Apakah agama itu?”
Beliau menjawab, “Akhlaq yang baik.”
Kemudian beliau ditanya tentang kesialan. Beliau menjawab, “Akhlaq yang buruk”.
Akhlaq akan menjadikan timbangan amal seorang hamba menjadi berat pada hari kiamat. Barangsiapa memiliki akhlaq dan amalan yang buruk, maka nasabnya tidak akan mempercepatnya masuk syurga. Akhlaq mulia adalah buah ibadah dalam islam.
Kemudian dintara sifat-sifat yang seyogiyanya terdapat pada seseorang agar dia berakhlaq islami adalah sebagai berikut;
a. Bersifat wara’ (hati-hati) terhadap syubhat.
b. Menahan pandangan (Ggadhul Bashar).
c. Menjaga lidah.
d. Malu (haya’)
e. Pemaaf dan sabar
f. Jujur
g. Rendah hati
h. Menjauhi prasangka, ghibah, dan mencari cela sesama muslim.
i. Dermawan dan pemurah
j. Menjadi teladan yang baik.
4. Saya Harus Mengislamkan Keluarga dan Rumah Tangga Saya
Pengakuan sebagai muslim harus menjadikan saya sebagai pemilik risalah islam ini dalam seluruh kehidupan. Bahkan saya harus menjadikan seluruh hidup dikendalikan sesuai dengan ajaran risalah ini.
Tidaklah cukup saya menjadi muslim seorang diri, tanpa mempedulikan orang-orang di sekelilingku. Sebab, salah satu pengaruh yang ditumbuhkan oleh ajaran islam di dalam jiwa manusia, jika ia beriman dan berbuat ihsan, adalah sikap memperhatikan orang lain, menmgajak mereka, menasihati mereka, dan memiliki sikap pemebelaan terhadap mereka.
Karena itu, tugas pertama bagi seorang muslim setelah dirinya sendiri adalah bertanggung jawab terhadap keluarga, rumah tangganya, dan anak-anaknya.
5. Saya Harus Mengalahkan Hawa Nafsu Saya
Manusia senantiasa dalam pergulatan melawan hawa nafsunya, sehingga ia bisa mengalahkan hawa nafsunya, atau hawa nafsu itu yang mengalahkannya.
Adapun perangkat-perangkat untuk memenangkan pertarungan melawan hawa nafsu adalah:
a. Hati
b. Akal
Untuk membantu manusia dalam menghadapi tantangan-tantangan dan godaan setan dan iblis islam telah memberikan banyak petunjuk yang bisa membantunya untuk bertahan dan mengalahkan musuhnya yang paling jahat tersebut. Petunjuk-petunjuk itu secara global telah disebutkan oleh salah satu ulama yang shaleh dengan ucapannya, “saya telah merenungkan dan berpikir, dari pintu manakah setan mendatangi manusia, maka ia datang dari sepuluh pintu:
Pertama, ambisi dan buruk sangka, maka saya menghadapinya dengan sikap percaya dan menerima.
Kedua, kecintaan terhadap hidup yang panjang dan angan-angan, maka saya menhadapinya dengan rasa takut terhadap datangnya kematian secara tiba-tiba.
Ketiga, keinginan untuk santai dan bersenang-senang, maka saya menhadapinya dengan menyadari hilangnya nikmat dan keburukan hisab.
keempat, bangga diri, maka saya menhadapinya dengan mengingat karunia dan rasa takut kepada akibat yang akan menimpa.
Kelima, sikap meremehkan dan kurang menghargai orang lain, maka saya menhadapinya dengan menganali hak dan kehormatan mereka.
Keenam, dengki, maka saya menhadapinya dengan sikap menerima dan rela.
Ketujuh, Riya’, maka saya menhadapinya dengan keikhlasan.
Kedelapan, kikir, maka saya menhadapinya dengan menyadari akan sirnanya semua yang ada di tangan makhluk.
Kesembilan, sombong, maka saya menhadapinya dengan sikap rendah hati.
Kesepuluh, tamak, maka saya menhadapinya dengan percaya dengan apa yang ada di sisi Allah dan bersikap zuhud terhadap apa yang menjadi milik manusia.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar