Sore tadi..
Lima belas menit sebelum maghrib..
Dahiku menengadah ke langit..
Lima belas menit sebelum maghrib..
Dentuman mesin berhenti..
Lima belas menit seblum maghrib..
Mesin mesin proyek dimatikan..
Lima belas menit yang berarti..
Menginspirasi..
Menghibur..
Penuh sensasi..
Lima belas menit sebelum maghrib..
Tak banyak orang yang menikmati..
Langit begitu mempesona..
Burung-burung beredar searah orang thawaf..
Bulan sabit 2 Dzulhijjah sudah menyapa..
Begitu banyak celah untuk kita bersyukur..
Namun banyak yang kufur..
Mengapa ada orang yang sedemikian frustasi..
Mengapa hari-hari mereka diliputi kata ini:
"STRESS"
Kurang hiburan?
Kurang apa?
Langit-Nya begitu luas tak bertepi..
Pasti rezeki-Nya pun luas terhampar..
Kurang apa lagi??
Mau hiburan?
Sekeliling kita adalah hiburan..
Rintik hujan yang menetes di jendela itu hiburan
Pesona langit senja juga hiburan
Lampu lampu jakarta di malam hari itu hiburan
Bahkan lukisan lembab kamar pun jadi hiburan...
Mengapa kita tak berusaha menikmati??
Pantaslah kalo kita disebut hamba yang kufur
Padahal banyak celah untuk kita bersyukur..
jendela ilmu
Kamis, 18 Oktober 2012
Selasa, 02 Oktober 2012
Sadarku
Sadarku..
kadang ku sadar sadarku tak sadar
kadang ku tak sadar sadarku tak sadar
kadang ku sadar sadarku sadar
kadang ku tak sadar sadarku sadar
Sadarkan sadarmu,
atas kesadaran yang seharusnya sadar
Sadarkan sadarmu,
atas kesadaran yang sadar
Tak sadarkan kesadaranmu,
atas kesadaran yang tak seharusnya sadar
Sadarku..
sadarlah..
kadang ku sadar sadarku tak sadar
kadang ku tak sadar sadarku tak sadar
kadang ku sadar sadarku sadar
kadang ku tak sadar sadarku sadar
Sadarkan sadarmu,
atas kesadaran yang seharusnya sadar
Sadarkan sadarmu,
atas kesadaran yang sadar
Tak sadarkan kesadaranmu,
atas kesadaran yang tak seharusnya sadar
Sadarku..
sadarlah..
Kau Lebih cantik dari bidadari
Wanita adalah sosok yang teramat mulia dalam islam. Dari rahim seorang wanita mulia tersimpan berjuta harapan, yaitu lahirnya generasi rabbani penerus peradaban. Sejarah mencatat bahwa dalam peradaban-peradaban sebelum islam wanita direndahkan bahkan hanya dijadikan peampiasan birahi para lelaki. Namun, setelah islam datang dengan membawa rahmat bagi semesta alam menjadikan wanita sebagai sosok yang mulia. Saking mulianya seorang wanita, ribuan bala tentara muslim diturunkan ketika ada seorang muslimah yang dihinakan. Untuk menjaga kehormatan wanita, disyari’atkanlah jilbab sebagai penutup aurat. Tujuan disyari’atkannya jilbab bagi wanita bukan untuk membatasi gerak wanita dan mengekang wanita, melainkan untuk menjaga segala keindahan yang ada pada diri seorang wanita sehingg tidak sembarang orang dapat menikmatinya secara liar. Wanita muslimah ibarat ratu, tidak bisa sembarang lelaki menyentuh dan mempermainkannya. Oleh karena itu bagi seorang wanita muslimah hendaknya menjaga dirinya dengan jilbabnya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Annur ayat 31, “Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah merek menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali pada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka.”
Syurga terhampar luas bagi para wanita muslimah yang menjalankan syari’ah-Nya termasuk kewajibannya menutup aurat mereka dengan syarat hanya diniatkan untuk meraih ridho Allah SWT. Jilbab dan amal saleh para wanita muslimah akan mengundang kecintaan Allah dan mengantarkan mereka ke jannah-Nya.
Semua wanita mendambakan dirinya bisa tampil cantik jelita, dan ini merupakan hal yang wajar. Jika wanita berhasil meraih jannah, yang kelak ia dapatkan bahkan jauh lebih cantik dari apa yang ia bayangkan sebagai wanita tercantik di dunia. Allah akan mengembalikan ia ke usia muda dan gadis. Lebih dari itu, para wanita di dunia ketika masuk jannah maka akan lebih cantik daripada bidadari syurga bahkan berlipat ganda, tergantung dengan tingkat ibadahnya kepada Allah.
Oleh karena itu, berbahagialah para wanita muslimah yang telah berupaya beribadah dan beramal saleh hanya karena mengharap ridho Allah, serta berjuang untuk menjaga kehormatannya dengan jilbabnya karena kelak mereka akan menjadi wanita yang dirindukan syurga dan menjadi wanita yang lebih cantik dari bidadari.
Syurga untuk Wanita
Setiap orang menginginkan sebuah kenikmatan dan kebahagiaan, baik laki-laki maupun perempuan. Kenikmatan yang abadi hanya dapat dirasakan pada kehidupan yang abadi, yaitu di syurga. Adapun syurga tidak hanya dipreuntukan bagi kaum laki-laki saja, tapi juga untuk wanita. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 133 yang artinya, “Disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” Serta dalam surat An-Nisa ayat 124 yang berbunyi “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik pria maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam jannah dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.”
Seorang wanita hendaknya tidak bertele-tele mempersoalkan secara rinci tentang bagaimana seandainya jika ia berada di syurga. Cukuplah baginya mengetahui bahwa dengan masuknya seseorang di jannah atau syurga maka lenyaplah segala kesusahan dan penderitaan yang telah ia alami selama di dunia, dan berubah menjadi kebahagiaan yang kekal selama-lamanya.
Di dalam jannah terdapat segala apapun yang diingini oleh hati dan sedap di pandang mata. Semuanya identik dengan kenikmatan dan kelezatan, tak ada yang membuat susah. Sehjingga tatkala pertama kali masuk, mereka telah mengetahui dimana rumahnya di jannah, tanpa harus mencari atau bertanya-tanya. Bahkan, mereka lebih hafal rumahnya di syurga daripada rumahnya di dunia.
Ketika Allah menyebutkan segala keindahan dan kesenangan yang ada di jannah maka itu berlaku umum baik laki-laki maupun wanita, seluruhnya mendapatkan kenikmatan-kenikmatan tersebut.
Ketika Allah menyebutkan segala keindahan dan kesenangan yang ada di jannah maka itu berlaku umum baik laki-laki maupun wanita, seluruhnya mendapatkan kenikmatan-kenikmatan tersebut.
Kamis, 14 Juni 2012
Ayah
Ayah
Oleh:
Nurlaila Sarah Fatimah
Pak Baba, begitulah masyarakat sekitar
memanggilnya. Pria paruh baya yang memiliki nama asli Hasan Ibrahim ini duduk
terpaku di tengah rumah yang telah berdiri kokoh sejak 41 tahun yang lalu,
yaitu satu tahun lebih muda dari anak pertamanya. Pria ini biasa dipanggil Pak
Baba karena sejak anak-anaknya memanggilnya Baba.
Saat duduk termenung di tengah rumah,
terdengarlah suara anak-anak desa yang sedang bermain di jalanan depan
rumahnya. Lantas, Pak Baba pun menengok keluar untuk sekedar memastikan apa
yang sedang dilakukan anak-anak tersebut.
“Ye…ye…ye… Andi jaga…” Sahut anak-anak tersebut. Andi pun
menutup matanya seraya berhitung “ satu.. dua.. tiga.. empat.. lima..”.
“Oh, ternyata mereka sedang bermain
petak umpet,” Ucap Pak Baba dengan suara lirih. Jumlah anak-anak itu ada
empat orang, sama seperti jumlah anaknya yang kini telah tumbuh dewasa.
Ia pun kembali masuk ke dalam rumah,
lalu mengambil album foto yang tersimpan rapi dalam lemari. Dibukanya perlahan
album itu, ia pun mulai mengusap sosok-sosok yang ada di foto. Air matanya
meleleh ketika membuka lembaran demi lembaran album foto.
Ia tak kuasa menahan kerinduannya pada
anak-anaknya yang dulu selalu menghidupkan seisi rumahnya dengan tawa dan
tingkah mereka yang polos. Di tengah kerinduannya, Ia berucap dalam hati:
“Mana kebisingan di rumah ini yang dulu selalu memberikan
kesan indah?”
“Mana keceriaan mereka saat belajar dengan diselangi
permainan?”
“Mana keluh kesah mereka yang tanpa sebab itu?”
“Mana tangisan dan tawa meraka di waktu yang sama?”
“Mana tingkah mereka yang lucu saat berkejar-kejaran dan berebutan
menuju ke arahku karena ingin duduk di dekatku?”
“Mana mereka yang berlarian menghampiriku saat mereka takut
ataupun senang?”
“Mana senandung mereka seraya berkata ‘Baba’ saat merasa
bahagia?”
“Atau panggilan ‘Baba’ dengan nada mengancam saat mereka
marah?”
“Mana pula teriakan keras mereka ‘Baba’ saat jauh dariku,
atau bisikan ‘Baba’ saat dekat denganku?”
Pak Baba hanya bias berucap dalam hati,
karena sekarang Ia tinggal sendiri di rumah itu, apalagi setelah istrinya
meninggal dunia setahun yang lalu. Sekarang Ia hanyut dalam kerinduan yang
mendalam terhadap anak-anaknya. Rasanya baru kemarin anak-anaknya memenuhi
rumahnya sepanjang hari. Namun, hari-hari nan indah itu pergi jauh meninggalkannya
dan hanya menisakan keheningan, kepedihan serta kerinduan yang menyesakan.
Ia pun mengusap air matanya dan menutup
album foto tersebut. Dengan lirih Ia kembali berucap,”Mereka sudah pergi?”
Meskipun berat Ia harus menerima kenyataan itu. Kini anak-anaknya telah tumbuh
dewasa dan memiliki keluarga sendiri. Anak pertamanya tinggal di seberang pulau
bersama keluarganya, anak keduanya tinggal di Jerman, sedangka anak ketiga dan
keempat berada di Madinah.
Satu yang Ia tekadkan dalam hatinya
yang terdalam, meskipun mereka pergi
jauh, tempat mereka tetaplah dalam hati dan begitu dekat.
Pak Baba masih begitu ingat akan sinar
mata mereka yang ceria. Di setiap pojok rumah masih tersimpan kenangan yang tak
terlupakan. Di sana masih ada bekas mainan mereka. Goresan tangan mereka di
dinding, piring-piring makan kecil milik mereka, ataupun toples permen yang
pernah mereka ambil diam-diam karena takut dimarahi pun masih utuh tersimpan di
rumah sederhana dengan berjuta kenangan itu.
Kerinduannya pada anak-anaknya sungguh
besar, hingga tak terlukiskan dengan kata-kata. Saat ini ia hanya sanggup
berdo’a, semoga Rabb Yang Maha Kuasa senantiasa menjaga dan melindungi
anak-anaknya.
Lalu, Pak Baba merapikan kembali album
foto dan rumahnya…
Tiba-tiba,, terdengar suara orang yang
mengetuk pintu dan mengucap salam…
“Assalamu’alaikum,, Baba..baba..”
(Suara yang taka sing baginya).
Dengan terpogoh-pogoh ia membukakan
pintu, dan ternyata telah hadir di hadapannya anak pertamanya lengkap bersama
istri dan anak-anaknya. Tanpa piker panjang, ia pun langsung memeluk anak dan
cucu-cucunya.
Siang yang mengharukan, seketika
kerinduan dan kesedihan pun berganti dengan kebahagiaan serta keceriaan.
Senin, 16 Januari 2012
Mengejar Phinisi
Saya adalah seorang mahasiswa biasa di Universitas Negeri Jakarta. Di Kota Bogor, saya dilahirkan dan dibesarkan. Kota ini terkenal dengan julukan kota hujan. Bagaimana tidak, hampir setiap hari hujan mengguyur kota ini, bahkan disaat musim kemarau, meskipun hanya hujan rintik-rintik.
Bogor adalah kota yang dikelilingi gunung. Dan rumah saya sendiri berada di kaki gunung Salak. Sehingga tak heran jika saya memiliki hobby berpetualang dan naik gunung. Di sini saya tak pernah melihat kapal laut, karena memang di Bogor tidak ada laut. Sejak kecil, saya sangat senang jika diajak jalan-jalan ke laut meskipun perjalanan yang ditempuh cukup jauh.
Nah, pertama kali diajak melihat laut mata kecil saya terperangah menyaksikan kapal laut dan perahu. Sejak saat itulah saya suka dengan kapal laut dan perahu.
Ketika duduk di bangku SMA kelas 3, saya mengikuti wisata ke Yogjakarta dan sekitarnya. Saya beserta rekan sekolah dan guru-guru mengunjungi berbagai tempat wisata, termasuk Candi Borobudur. Senang bukan main rasanya karena mendapat kesempatan pergi ke tempat yang sangat diinginkan, yang awalnya hanya dapat saya pandangi di televisi dan majalah. Ketika asyik berkeliling candi, lagi-lagi mata saya terperangah melihat kapal laut di relief candi tersebut. Kemudian saya ketahui bahwa kapal laut itu asli Indonesia, dan dikenal dengan nama kapal PHINISI.
Hari berganti hari, dan saya bertambah usia. Kini tibalah waktu untuk melanjutkan study ke bangku kuliah. Saya sangat senang bisa kuliah, meskiipun terpaksa tinggal di Jakarta yang dulu sangat saya hindari karena udaranya yang panas serta polusi yang luar biasa. Perkuliahan saya lewati dengan lancar.
Hari boleh berganti, namun ketertarikan saya pada kapal laut tidak berubah khususnya pada kapal PHINISI yang menjadi kebanggaan nusantara. Rasanya keinginan untuk dapat melihat langsung kapal kuno tersebut semakit menguat hingga saya tulis dalam catatan impian saya, berharap bisa menjadi kenyataan.
Bulan Desember tahun 2010, di kampus diadakan Musabaqoh Tilawatil Qur'an (MTQ), dan yang juara akan dikirim untuk mewakili kampus dalam MTQ Nasional Mahasiswa di Makassar. Saya pun mengikutinya tanpa berharap menang, karena saingannya cukup banyak. Dalam do'a saya hanya berharap bisa memberikan hadiah dan kabar gembira untuk kakak perempuan saya yang berulang tahun pada tanggal 22 Desember, juga ingin memberikan sesuatu untuk Umi/Ibu tercinta pada hari ibu. Ternyata Allah mengabulkan do'a saya, dan saya pun menjuarai lomba MTQ tersebut pada cabang hifzil qur'an, murottal, dan karya tulis. Pada saat pengumuman pemenang diberitahukan bahwa yang juara akan dikirim ke Makassar pada bulan juli 2011 untuk mewakili kampus dalam lomba MTQ.
Awalnya saya biasa saja mendengar bahwa saya berkesempatan pergi ke Makassar. Tapi setelah saya ingat-ingat bahwa phinisi itu berasalal dari Makassar tepatnya di Bulukumba, saya langsung bersyukur dan tersenyum riang. Mungkin inilah jawaban Allah atas do'a saya selama ini, yaitu ingin melihat langsung phinisi yang melegenda. Tak tanggung-tanggung, langsung ke tempat asalnya. Alhamdulillah....
Tanggal 8 juli 2011 saya pun terbang ke Makassar dengan hati yang senang. Karena selain bisa mewakili kampus dalam lomba yang diikuti ribuan peserta dari Sabang-Merauke, saya juga bisa melihat phinisi.
Sepanjang perjalanan di udara saya tidak bisa memejamkan mata, karena menyaksikan pemandangan yang sungguh luar biasa dari udara. Ini pun pengalaman pertama saya naik pesawat.
Pramugari memberitahu bahwa tak berapa lama kami akan tiba di Bandara Sultan Hassanuddin Makassar. Namun, sebelum pesawat mendarat saya melihat layar terkembang di laut, yang sangat saya kenali bentuknya, dan itu adalah kapal PHINISI. Air matapun menetes karena bahagia. Akhirnya pesawat pun bersiap mendarat.
Sepuluh hari di Makassar memberikan pengalaman yang begitu berkesan bagi saya. Saya dan teman-teman berlomba di MTQ Nasional Mahasiswa ini. Meskipun demikian, kami tak menyia-nyiakan waktu untuk berjalan-jalan di Kota Makassar, tak terkecuali mencicipi penganan khas Makassar yang sangat enak.
Di puncak acara MTQ, diumumkan para pemenang lomba. Ternyata saya keluar sebagai juara harapan 1 cabang hifzhil qur'an, ya bisa dibilang juara 4 lah. hehe...
Meskipun juara, saya merasa sedih karena disaat yang sama saya harus kembali ke Jakarta kepada rutinitas yang kadang membuat jenuh. Di Bandara Sultan Hassanudin saya menemukan replika kapal Phinisi yang cukup besar, dan saya tak membuang kesempatan untuk berfoto. Oya, saya pun sempat membeli replika Phinisi di tempat oleh-oleh dengan harga yang cukup murah.
Saya pun naik ke pesawat menuju Jakarta. Makassar semakin jauh dari pandangan, namun rasanya hati ini masih tertinggal di sana.
Mimpi saya untuk melihat Phinisi secara langsung tercapai, dan saya akan berusaha meraih mimpi-mimpi yang lain.
Bogor adalah kota yang dikelilingi gunung. Dan rumah saya sendiri berada di kaki gunung Salak. Sehingga tak heran jika saya memiliki hobby berpetualang dan naik gunung. Di sini saya tak pernah melihat kapal laut, karena memang di Bogor tidak ada laut. Sejak kecil, saya sangat senang jika diajak jalan-jalan ke laut meskipun perjalanan yang ditempuh cukup jauh.
Nah, pertama kali diajak melihat laut mata kecil saya terperangah menyaksikan kapal laut dan perahu. Sejak saat itulah saya suka dengan kapal laut dan perahu.
Ketika duduk di bangku SMA kelas 3, saya mengikuti wisata ke Yogjakarta dan sekitarnya. Saya beserta rekan sekolah dan guru-guru mengunjungi berbagai tempat wisata, termasuk Candi Borobudur. Senang bukan main rasanya karena mendapat kesempatan pergi ke tempat yang sangat diinginkan, yang awalnya hanya dapat saya pandangi di televisi dan majalah. Ketika asyik berkeliling candi, lagi-lagi mata saya terperangah melihat kapal laut di relief candi tersebut. Kemudian saya ketahui bahwa kapal laut itu asli Indonesia, dan dikenal dengan nama kapal PHINISI.
Hari berganti hari, dan saya bertambah usia. Kini tibalah waktu untuk melanjutkan study ke bangku kuliah. Saya sangat senang bisa kuliah, meskiipun terpaksa tinggal di Jakarta yang dulu sangat saya hindari karena udaranya yang panas serta polusi yang luar biasa. Perkuliahan saya lewati dengan lancar.
Hari boleh berganti, namun ketertarikan saya pada kapal laut tidak berubah khususnya pada kapal PHINISI yang menjadi kebanggaan nusantara. Rasanya keinginan untuk dapat melihat langsung kapal kuno tersebut semakit menguat hingga saya tulis dalam catatan impian saya, berharap bisa menjadi kenyataan.
Bulan Desember tahun 2010, di kampus diadakan Musabaqoh Tilawatil Qur'an (MTQ), dan yang juara akan dikirim untuk mewakili kampus dalam MTQ Nasional Mahasiswa di Makassar. Saya pun mengikutinya tanpa berharap menang, karena saingannya cukup banyak. Dalam do'a saya hanya berharap bisa memberikan hadiah dan kabar gembira untuk kakak perempuan saya yang berulang tahun pada tanggal 22 Desember, juga ingin memberikan sesuatu untuk Umi/Ibu tercinta pada hari ibu. Ternyata Allah mengabulkan do'a saya, dan saya pun menjuarai lomba MTQ tersebut pada cabang hifzil qur'an, murottal, dan karya tulis. Pada saat pengumuman pemenang diberitahukan bahwa yang juara akan dikirim ke Makassar pada bulan juli 2011 untuk mewakili kampus dalam lomba MTQ.
Awalnya saya biasa saja mendengar bahwa saya berkesempatan pergi ke Makassar. Tapi setelah saya ingat-ingat bahwa phinisi itu berasalal dari Makassar tepatnya di Bulukumba, saya langsung bersyukur dan tersenyum riang. Mungkin inilah jawaban Allah atas do'a saya selama ini, yaitu ingin melihat langsung phinisi yang melegenda. Tak tanggung-tanggung, langsung ke tempat asalnya. Alhamdulillah....
Tanggal 8 juli 2011 saya pun terbang ke Makassar dengan hati yang senang. Karena selain bisa mewakili kampus dalam lomba yang diikuti ribuan peserta dari Sabang-Merauke, saya juga bisa melihat phinisi.
Sepanjang perjalanan di udara saya tidak bisa memejamkan mata, karena menyaksikan pemandangan yang sungguh luar biasa dari udara. Ini pun pengalaman pertama saya naik pesawat.
Pramugari memberitahu bahwa tak berapa lama kami akan tiba di Bandara Sultan Hassanuddin Makassar. Namun, sebelum pesawat mendarat saya melihat layar terkembang di laut, yang sangat saya kenali bentuknya, dan itu adalah kapal PHINISI. Air matapun menetes karena bahagia. Akhirnya pesawat pun bersiap mendarat.
Sepuluh hari di Makassar memberikan pengalaman yang begitu berkesan bagi saya. Saya dan teman-teman berlomba di MTQ Nasional Mahasiswa ini. Meskipun demikian, kami tak menyia-nyiakan waktu untuk berjalan-jalan di Kota Makassar, tak terkecuali mencicipi penganan khas Makassar yang sangat enak.
Di puncak acara MTQ, diumumkan para pemenang lomba. Ternyata saya keluar sebagai juara harapan 1 cabang hifzhil qur'an, ya bisa dibilang juara 4 lah. hehe...
Meskipun juara, saya merasa sedih karena disaat yang sama saya harus kembali ke Jakarta kepada rutinitas yang kadang membuat jenuh. Di Bandara Sultan Hassanudin saya menemukan replika kapal Phinisi yang cukup besar, dan saya tak membuang kesempatan untuk berfoto. Oya, saya pun sempat membeli replika Phinisi di tempat oleh-oleh dengan harga yang cukup murah.
Saya pun naik ke pesawat menuju Jakarta. Makassar semakin jauh dari pandangan, namun rasanya hati ini masih tertinggal di sana.
Mimpi saya untuk melihat Phinisi secara langsung tercapai, dan saya akan berusaha meraih mimpi-mimpi yang lain.
Langganan:
Komentar (Atom)