jendela ilmu

Selasa, 18 November 2014

Kristi Muslimah Sejati



Sebuah Cerpen karya Nurlaila Sarah Fatimah

Kristi,, begitulah gadis ini biasa  dipanggil oleh teman-teman dan tetangganya. Mungkin pertama kali mendengar nama ini kita segera terbayang bahwa gadis berkulit putih, bermata sipit dengan tinggi badan 158 cm ini beragama kristen.
Nama lengkapnya adalah Sarah Kristiani, sebuah nama pemberian Ayah dan Ibu yang sangat dicintainya. Arti dari nama itu sendiri sebetulnya sangat sarat makna. “Sarah”, nama yang banyak digunakan di Timur Tengah adalah serapan dari bahasa Ibrani “sa’rah” memiliki arti “pemimpin wanita”.  Sedangkan “Kristiani” tentulah kita dapat menebaknya bahwa kata ini berasal dari kata Kristen. Jadi, arti keseluruhan dari nama tersebut adalah “Pemimpin wanita Kristiani”.
 Gadis keturunan Batak dan Tionghoa ini terlahir di keluarga penganut agama Kristen yang ta’at. Sejak kecil dia selalu didekatkan dengan gereja dan bergaul pun dengan orang-orang gereja. Bahkan, Ayahnya sempat merencanakan bahwa Kristi akan dimasukan ke sekolah biarawati yang nantinya akan menjadi seorang biarawati. Namun, Kristi yang cerdas dan kritis menolak rencana ayahnya tersebut.
“Aku mulai ragu dengan semua ini..” ucap Kristi dalam hatinya. Keresahan hatinya ini terjadi sejak ia membaca sebuah artikel tentang islam. Ia rupanya tertarik dengan ajaran islam, sampai pada akhirnya Ia iseng-iseng membuka Al-Qur’an terjemahan di perpustakaan sekolah. Air matanya meleleh saat membaca kandungan Al-Qur’an.
Karena sangat tersentuh dengan kandungan Al-Qur’an yang dibacanya, Kristi pun berkonsultasi dengan guru agama islam di sekolah. “Pak,, saya boleh minta waktu sebentar?” Tanya Kristi Pada Pak Hasan. Lantas, Pak Hasan pun kaget karena jarang sekali ada siswa non-islam yang mendatanginya. “Oh iya, namamu siapa dan kelas berapa?” Ujar Pak Hasan. “Saya Kristi kelas XII IPA 1.  Saya ingin bertanya mengenai agama islam pak..” Kristi melanjutkan. “Oke, kita ngobrol di depan masjid ya..” Jawabnya. Perbincangan mereka berlangsung cukup lama, sejak bel pulang sekolah pukul 10.00 WIB sampai pukul 15.00 dengan dipotong shalat zuhur dan makan siang. Hari itu memang sedang ujian tengah semester, sehingga sekolah selesai lebih awal.
“Terima kasih atas waktunya pak, saya sudah dijemput pulang.” Kristi pun pamit pulang setelah merasa puas bertanya tentang islam pada Pak Hasan. “Kalo kamu mau bertanya lagi tidak usah sungkan, datangi saja Bapak di ruang guru.” Sambil menutup mushaf, Pak Hasan menawarkan kesediaannya menjadi sumber informasi.
Hidayah oh hidayah, memang datang tak diduga-duga. Ternyata Kristi yang berasal dari penganut agama Kristen yang ta’at ini dengan keberanian penuh berhijrah pada agama islam. Di usia  17 tahun, tepat di hari ulang tahunnya dia mengucapkan dua kalimat syahadat di depan jama’ah masjid Al-Hidayah.
Berita keislamannya sempat menghebohkan seisi komplek tempat Ia tinggal. Bahkan ia pun mendapat cekalan keras dari keluarga dan teman-temannya. Ayah dan Ibu yang selama ini mendidiknya pun turut menentang keislamannya. Namun, pada akhirnya sang Ibu mendukung Kristi meskipun ia sendiri masih menganut agama Kristen. Berbeda dengan Ayahnya yang tak henti-hentinya mencekal keislaman Kristi, sampai pernah melayangkan tamparan di pipi putih Kristi. Cacian dan makian dari ayahnya sendiri menjadi makanan sehari-hari bagi Kristi, tapi dia tetap memperlakukan  ayahnya dengan sangat baik dan penuh kasih sayang.
“Dasar anak tak tau diuntung..”Teriak Ayah dengan suara yang memekik telinga.
“Sudahlah Yah,, walau bagaimana pun Kristi kan anak kita..” Ibu berusaha menenangkan.
“Ayah, aku tetap sayang sama Ayah..”Ujar Kristi.
“Kalau sayang sama Ayah, kamu harus kembali ke agama kita.”Balas Ayah
Dengan keimanan yang teguh, bagaimana pun orang lain membujuk, keislamannya tak akan pernah goyah. “Maafkan Kristi Ayah, tidak bisa..”
Karena tak tega melihat anak semata wayangnya menjadi bulan-bulanan Sang Ayah, akhirnya Ibu merelakan anaknya untuk pindah dari rumah ke rumah temannya yang bernama Aisyah di daerah Bogor. Di rumah sederhana ini Ia dibantu Aisyah mempelajari islam lebih dalam. Mereka sangat akrab dan sudah seperti keluarga sendiri. Oh ya,, Aisyah adalah anak seorang  pedagang sayur, sedangkan ibunya berprofesi sebagai penjahit. Meskipun hidup dengan sangat sederhana, Aisyah dan keluarganya sangat bahagia dan menerima Kristi sebagai keluarga.
Kristi memang cerdas, akhirnya Ia mendapatkan beasiswa di salah satu kampus negeri di Kota Bogor. Di saat yang sama Aisyah pun mendapatkan beasiswa serupa, dengan program study yang berbeda. Prestasi mereka sangat gemilang di kampus, begitupun  dengan aktivitas mereka di organisasi keislaman di kampus.
Sepulang kuliah, Ia tak sengaja bertemu dengan seorang wanita paruh baya lagi janda yang sedang menangis. “Ibu, kalau boleh tahu mengapa Ibu menangis?” Tanya Kristi. “Ibu sedang bingung Neng,, surat tanah rumah ibu mau disita kalau tidak mampu membayar hutang ke Bank keliling sampai bisa membayar dan itu pun dengan bunga yang terus bertambah.”Jawab ibu sambil terisak-isak.
Kristi terdiam lalu bertanya kembali, “Memang hutangnya berapa bu?”
“500 ribu Neng, tapi ditambah bunga jadi 1 juta.”Jawabnya.
“Astagfirullah,, itu kan riba, haram bu..”Papar Kristi.
“Ibu tidak mengerti masalah itu Neng, kalaupun mengerti Ibu tidak akan pinjam uang ke situ.”Sahutnya sedih.
Kristi merasa miris mendengar ceritanya, tak panjang kata ia pun segera mengeluarkan uang 1 juta rupiah yang telah disisihkan dari beasiswa untuk melunasi hutang si Ibu. “Ini bu,,  semoga bermanfaat.” Sambil menyodorkan uang. “Ayo saya antar Ibu untuk bayar hutangnya.”Lanjut Kristi.
“Ya Allah,, Ibu jadi menyusahkan Neng,, terima kasih ya Neng,, mudah-mudahan hidup Eneng berkah..”Kata si Ibu. Mereka pun berjalan menuju rumah petugas Bank keliling.
Setelah selesai melunasi hutang si Ibu, Kristi pun mencari informasi terkait pinjam-meminjam yang dilakukan Bank keliling tersebut. Di tengah pencariannya akan Bank keliling, Ia mendapati beberapa orang yang meminjamkan uang tapi dengan penambahan bunga. Ternyata masih banyak masyarakat yang belum mengerti tentang hukum riba meskipun mereka beragama islam.
Sebagai muslimah yang peduli dengan nasib umat islam, Ia akhirnya berusaha mencari solusi dengan berdiskusi dengan Aisyah dan beberapa temannya di organisasi islam kampus.
Diskusi sudah dilakukan dan tinggal melakukan aksi nyata. Kristi dengan dibantu beberapa temannya turun ke kampung-kampung untuk memberikan penyuluhan mengenai bahaya riba dan pendekatan pada masyarakat agar tidak tergoda meminjam uang pada rentenir dan sejenisnya. Selain itu mereka pun memberikan bantuan dana dan pinjaman bebas bunga yang bersumber dari donator dan hasil usaha mandiri.
“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Allah pun melaknat orang-orang yang meminjamkan, meminjam, bahkan yang terkait dengan harta riba…...”Inilah yang disampaikan Kristi saat menerangkan bahaya riba pada masyarakat.
Apa yang dilakukan Kristi dan beberapa temannya tersebut ternyata tidak disukai oleh si pemilik usaha ribawi ini, bahkan sempat diancam dengan pisau. Namun hal ini tak menyurutkan niat pemuda dan pemudi muslim ini dalam memperbaiki masyarakat agar terhindar dari yang haram, khususnya riba.
Suatu malam di jalan menuju rumah, Kristi pulang sendiri karena Aisyah sakit dan tidak bisa ke kampus. Saat itu lima sosok pria bertopeng dan berbaju hitam menyergapnya dari belakang. Ia pun diculik dan dibawa jauh ke sebuah gudang kosong berbentuk rumah panggung di pelosok kampung. Ia tak mampu melawan karena seluruh tubuhnya langsung di ikat tali kencang.
Setelah sadar bahwa Ia diculik, lantas Ia pun berusaha melepaskan diri dari ikatan yang menghambat geraknya. Berbagai cara dilakukan, namun sia-sia karena badannya terlalu lemas tak berdaya. Satu yang tak henti dilakukannya, yaitu berdo’a. Ia sadar betul bahwa do’a adalah senjata muslim.
Tak lama, masuklah lima pria yang menculiknya beserta satu wanita berbaju merah yang berperawakan kasar dan tambun. Kristi ternyata mengenal sosok tersebut.
“Hei, muslimah sok sholehah,, sekarang baru tahu rasa kamu ya..Makanya, jangan berani meracuni masyarakat dengan dakwah kamu itu”Kata wanita berbaju merah tersebut seraya melepaskan penutup mulut yang menempel di mulut Kristi.
“Saya hanya menyampaikan kebenaran..”Jawab Kristi tegas.
“Diam!!! Gara-gara kamu penghasilan saya merosot drastis, tidak ada yang pinjam uang lagi dari saya.”Potong si wanita berbaju merah.
“Yang Anda lakukan itu diharamkan oleh Allah, itu riba.. dan sangat dibenci oleh Allah.”Ucap Kristi berusaha menjelaskan.
“Saya tidak peduli akan hal itu.. Selamat menghabiskan sisa hidupmu di sini.. Tak aka nada yang bias menolongmu, karena gudang ini jauh dari rumah warga.. Ha..ha..ha..”Ancam wanita itu, lalu kembali menutup mulut Kristi dengan lakban hitam.
Sudah tiga hari Kristi terkurung di gudang kosong tersebut, sedangkan tubuhnya bertambah lemas. Yang sanggup dilakukannya adalah berdo’a agar Allah menyelamatkannya. Sungguh luar biasa gadis ini, meskipun menderita Ia tak merasa menyesal telah mendakwahkan tentang riba, Ia niatkan untuk Allah dan jihad. Ia sesekali tertidur dan bermimpi. Ia bermimpi bertemu dengan ibunya yang berkata, “Hentakkan kakimu Nak…” Mimpi yang terjadi berulang-ulang.
“Ibu..ibu..tolong…”Teriak Kristi dalam mimpi. Ia pun terbangun dan shalat dengan gerakan sebisanya. Setelah berdo’a Ia mengingat pesan Ibunya dalam mimpi, lalu kakinya mulai dihentakkan ke bawah berulang-ulang.
Ternyata tanpa diduga, lantai gudang kosong berbentuk rumah panggung tersebut mulai berlubang, hingga rapuh di beberapa bagian. Ia pun terjatuh ke bawah rumah panggung, tak lama Ia berhasil melepaskan ikatan tali yang terlilit. Tanpa pikir panjang, Kristi berlari mencari pertolongan dan sampailah di masjid kampung. Di sana Ia berjumpa dengan seorang marbot, lalu menceritakan semua yang terjadi.
Keesokan harinya mereka langsung melapor kasus penculikan ke pihak kepolisian dan menyerahkan beberapa barang bukti yang berhasil dibawa dari gudang tempat penyekapan. Ia yakin bahwa Allah akan menolongnya keluar dari permasalahan tersebut.
Setelah beberapa bulan kasus itu pun terbonkar, para pelaku termasuk wanita rentenir berbaju merah itu pun dijebloskan ke dalam penjara.
Kristi akhirnya dijemput pulang oleh Ayah dan ibunya, yang ternyata sudah bersyahadat juga. Ungkapan syukur tak henti-hentinya Ia ucapkan. Tak lupa Ia pun ucapkan terima kasih pada sahabatnya “Aisyah”.
Kristi yang kini telah berganti nama menjadi Sarah Islamia telah membuktikan kesungguhannya sebagai muslimah dalam memberantas kemaksiatan dan kemunkaran. Dengan gelar muslimah yang disandangnya memberikan kekuatan yang luar biasa kala ujian menghampirinya, kekuatan itu bersumber dari yang tidak ada duanya, Cintanya yang hakiki, yaitu kekuatan Allah SWT.
Dia bertekad untuk menjadi muslimah yang sholehah dan berdaya guna bagi masyarakat, demi tegaknya panji islam.