jendela ilmu

Rabu, 06 Maret 2013

Bukan sajak perpisahan



 
Langit senja besiram Sang surya
Berlapis awan yang  beriringan menari nari
Beragam warna terindera mata
Menghibur hati meski ia bukanlah pelangi

Raga mematung jiwa termenung
Di tengah keramaian jalan pemuda- rawamangun
Sekiranya awan cemburu
Mungkin langit jadi sembilu
Sekiranya malam datang tergesa-gesa
Mungkin senja kan putus asa
Karna segala sesuatu memiliki  masa

Senja ini bukanlah senja yang dulu
Kala pertama kita bertemu
Wajah asing penuh lugu
Tersirat keseriusan tetapi lucu


Bertatap muka memulai cakap
Memutar otak mencari kata
Apa kiranya yang hendak diucap..
Perkenalan berjalan singkat
Sungguh sungguh singkat, sesingkat waktu senja

Betapa riang hariku sejak itu
Hari baru, teman baru
Nuansa baru tanpa putih abu abu

Siang berganti malam
Bulan berganti tahun
Jadilah bertahun-tahun
Tanpa terasa kita lewati

Hah..
Sebetulnya Aku curiga
pada waktu yang begitu singkatnya
Apakah Ia murka, karena kita melalaikannya
Aku pun curiga
pada sang malam
Karena sejak mengenalmu aku selalu merindukan siang

Kawan..
Mengenalmu adalah kebahagiaan
Kebahagiaan yang mewariskan rindu
Rindu sang rembulan pada cahaya yang temaram
Juga rindu sang bintang pada gelapnya malam

Kawan..
Perjumpaan kita adalah bagian dari takdir
Sebuah takdir yang indah
Hingga sukar terlupa

Kawan..
Bagiku tak ada kata perpisahan
Selama jiwa masih dalam raganya
Selama kita saling mengingat dalam do’a

Detik yang terpetik tlah mencatat
Tentang mimpiku dan mimpimu
Perjuanganku juga dirimu
Saling mengisi dan memacu
Dalam dimensi ruang dan waktu


Satu hal yang harus kau ingat
Kita adalah teman
Kini dan nanti
Karena kita adalah teman
Teman untuk selamanya..

Oleh: Nurlaila Sarah F.
Jakarta, Maret 2013