jendela ilmu

Kamis, 14 Juni 2012

Ayah


Ayah
Oleh: Nurlaila Sarah Fatimah

Pak Baba, begitulah masyarakat sekitar memanggilnya. Pria paruh baya yang memiliki nama asli Hasan Ibrahim ini duduk terpaku di tengah rumah yang telah berdiri kokoh sejak 41 tahun yang lalu, yaitu satu tahun lebih muda dari anak pertamanya. Pria ini biasa dipanggil Pak Baba karena sejak anak-anaknya memanggilnya Baba.
Saat duduk termenung di tengah rumah, terdengarlah suara anak-anak desa yang sedang bermain di jalanan depan rumahnya. Lantas, Pak Baba pun menengok keluar untuk sekedar memastikan apa yang sedang dilakukan anak-anak tersebut.
“Ye…ye…ye… Andi  jaga…” Sahut anak-anak tersebut. Andi pun menutup matanya seraya berhitung “ satu.. dua.. tiga.. empat.. lima..”.
“Oh, ternyata mereka sedang bermain petak umpet,” Ucap Pak Baba dengan suara lirih. Jumlah anak-anak itu ada empat  orang, sama seperti  jumlah anaknya yang kini telah tumbuh dewasa.
Ia pun kembali masuk ke dalam rumah, lalu mengambil album foto yang tersimpan rapi dalam lemari. Dibukanya perlahan album itu, ia pun mulai mengusap sosok-sosok yang ada di foto. Air matanya meleleh ketika membuka lembaran demi lembaran album foto.
Ia tak kuasa menahan kerinduannya pada anak-anaknya yang dulu selalu menghidupkan seisi rumahnya dengan tawa dan tingkah mereka yang polos. Di tengah kerinduannya, Ia berucap dalam hati:
“Mana kebisingan di rumah ini yang dulu selalu memberikan kesan indah?”
“Mana keceriaan mereka saat belajar dengan diselangi permainan?”
“Mana keluh kesah mereka yang tanpa sebab itu?”
“Mana tangisan dan tawa meraka di waktu yang sama?”
“Mana tingkah mereka yang lucu saat berkejar-kejaran dan berebutan menuju ke arahku karena ingin duduk di dekatku?”
“Mana mereka yang berlarian menghampiriku saat mereka takut ataupun senang?”
“Mana senandung mereka seraya berkata ‘Baba’ saat merasa bahagia?”
“Atau panggilan ‘Baba’ dengan nada mengancam saat mereka marah?”
“Mana pula teriakan keras mereka ‘Baba’ saat jauh dariku, atau bisikan ‘Baba’ saat dekat denganku?”
Pak Baba hanya bias berucap dalam hati, karena sekarang Ia tinggal sendiri di rumah itu, apalagi setelah istrinya meninggal dunia setahun yang lalu. Sekarang Ia hanyut dalam kerinduan yang mendalam terhadap anak-anaknya. Rasanya baru kemarin anak-anaknya memenuhi rumahnya sepanjang hari. Namun, hari-hari nan indah itu pergi jauh meninggalkannya dan hanya menisakan keheningan, kepedihan serta kerinduan yang menyesakan.
Ia pun mengusap air matanya dan menutup album foto tersebut. Dengan lirih Ia kembali berucap,”Mereka sudah pergi?” Meskipun berat Ia harus menerima kenyataan itu. Kini anak-anaknya telah tumbuh dewasa dan memiliki keluarga sendiri. Anak pertamanya tinggal di seberang pulau bersama keluarganya, anak keduanya tinggal di Jerman, sedangka anak ketiga dan keempat berada di Madinah.
Satu yang Ia tekadkan dalam hatinya yang terdalam, meskipun mereka pergi jauh, tempat mereka tetaplah dalam hati dan begitu dekat.
Pak Baba masih begitu ingat akan sinar mata mereka yang ceria. Di setiap pojok rumah masih tersimpan kenangan yang tak terlupakan. Di sana masih ada bekas mainan mereka. Goresan tangan mereka di dinding, piring-piring makan kecil milik mereka, ataupun toples permen yang pernah mereka ambil diam-diam karena takut dimarahi pun masih utuh tersimpan di rumah sederhana dengan berjuta kenangan itu.
Kerinduannya pada anak-anaknya sungguh besar, hingga tak terlukiskan dengan kata-kata. Saat ini ia hanya sanggup berdo’a, semoga Rabb Yang Maha Kuasa senantiasa menjaga dan melindungi anak-anaknya.
Lalu, Pak Baba merapikan kembali album foto dan rumahnya…
Tiba-tiba,, terdengar suara orang yang mengetuk pintu dan mengucap salam…
“Assalamu’alaikum,, Baba..baba..” (Suara yang taka sing baginya).
Dengan terpogoh-pogoh ia membukakan pintu, dan ternyata telah hadir di hadapannya anak pertamanya lengkap bersama istri dan anak-anaknya. Tanpa piker panjang, ia pun langsung memeluk anak dan cucu-cucunya.
Siang yang mengharukan, seketika kerinduan dan kesedihan pun berganti dengan kebahagiaan serta keceriaan.