Ayah
Oleh:
Nurlaila Sarah Fatimah
Pak Baba, begitulah masyarakat sekitar
memanggilnya. Pria paruh baya yang memiliki nama asli Hasan Ibrahim ini duduk
terpaku di tengah rumah yang telah berdiri kokoh sejak 41 tahun yang lalu,
yaitu satu tahun lebih muda dari anak pertamanya. Pria ini biasa dipanggil Pak
Baba karena sejak anak-anaknya memanggilnya Baba.
Saat duduk termenung di tengah rumah,
terdengarlah suara anak-anak desa yang sedang bermain di jalanan depan
rumahnya. Lantas, Pak Baba pun menengok keluar untuk sekedar memastikan apa
yang sedang dilakukan anak-anak tersebut.
“Ye…ye…ye… Andi jaga…” Sahut anak-anak tersebut. Andi pun
menutup matanya seraya berhitung “ satu.. dua.. tiga.. empat.. lima..”.
“Oh, ternyata mereka sedang bermain
petak umpet,” Ucap Pak Baba dengan suara lirih. Jumlah anak-anak itu ada
empat orang, sama seperti jumlah anaknya yang kini telah tumbuh dewasa.
Ia pun kembali masuk ke dalam rumah,
lalu mengambil album foto yang tersimpan rapi dalam lemari. Dibukanya perlahan
album itu, ia pun mulai mengusap sosok-sosok yang ada di foto. Air matanya
meleleh ketika membuka lembaran demi lembaran album foto.
Ia tak kuasa menahan kerinduannya pada
anak-anaknya yang dulu selalu menghidupkan seisi rumahnya dengan tawa dan
tingkah mereka yang polos. Di tengah kerinduannya, Ia berucap dalam hati:
“Mana kebisingan di rumah ini yang dulu selalu memberikan
kesan indah?”
“Mana keceriaan mereka saat belajar dengan diselangi
permainan?”
“Mana keluh kesah mereka yang tanpa sebab itu?”
“Mana tangisan dan tawa meraka di waktu yang sama?”
“Mana tingkah mereka yang lucu saat berkejar-kejaran dan berebutan
menuju ke arahku karena ingin duduk di dekatku?”
“Mana mereka yang berlarian menghampiriku saat mereka takut
ataupun senang?”
“Mana senandung mereka seraya berkata ‘Baba’ saat merasa
bahagia?”
“Atau panggilan ‘Baba’ dengan nada mengancam saat mereka
marah?”
“Mana pula teriakan keras mereka ‘Baba’ saat jauh dariku,
atau bisikan ‘Baba’ saat dekat denganku?”
Pak Baba hanya bias berucap dalam hati,
karena sekarang Ia tinggal sendiri di rumah itu, apalagi setelah istrinya
meninggal dunia setahun yang lalu. Sekarang Ia hanyut dalam kerinduan yang
mendalam terhadap anak-anaknya. Rasanya baru kemarin anak-anaknya memenuhi
rumahnya sepanjang hari. Namun, hari-hari nan indah itu pergi jauh meninggalkannya
dan hanya menisakan keheningan, kepedihan serta kerinduan yang menyesakan.
Ia pun mengusap air matanya dan menutup
album foto tersebut. Dengan lirih Ia kembali berucap,”Mereka sudah pergi?”
Meskipun berat Ia harus menerima kenyataan itu. Kini anak-anaknya telah tumbuh
dewasa dan memiliki keluarga sendiri. Anak pertamanya tinggal di seberang pulau
bersama keluarganya, anak keduanya tinggal di Jerman, sedangka anak ketiga dan
keempat berada di Madinah.
Satu yang Ia tekadkan dalam hatinya
yang terdalam, meskipun mereka pergi
jauh, tempat mereka tetaplah dalam hati dan begitu dekat.
Pak Baba masih begitu ingat akan sinar
mata mereka yang ceria. Di setiap pojok rumah masih tersimpan kenangan yang tak
terlupakan. Di sana masih ada bekas mainan mereka. Goresan tangan mereka di
dinding, piring-piring makan kecil milik mereka, ataupun toples permen yang
pernah mereka ambil diam-diam karena takut dimarahi pun masih utuh tersimpan di
rumah sederhana dengan berjuta kenangan itu.
Kerinduannya pada anak-anaknya sungguh
besar, hingga tak terlukiskan dengan kata-kata. Saat ini ia hanya sanggup
berdo’a, semoga Rabb Yang Maha Kuasa senantiasa menjaga dan melindungi
anak-anaknya.
Lalu, Pak Baba merapikan kembali album
foto dan rumahnya…
Tiba-tiba,, terdengar suara orang yang
mengetuk pintu dan mengucap salam…
“Assalamu’alaikum,, Baba..baba..”
(Suara yang taka sing baginya).
Dengan terpogoh-pogoh ia membukakan
pintu, dan ternyata telah hadir di hadapannya anak pertamanya lengkap bersama
istri dan anak-anaknya. Tanpa piker panjang, ia pun langsung memeluk anak dan
cucu-cucunya.
Siang yang mengharukan, seketika
kerinduan dan kesedihan pun berganti dengan kebahagiaan serta keceriaan.