jendela ilmu

Senin, 16 Januari 2012

Mengejar Phinisi

Saya adalah seorang mahasiswa biasa di Universitas Negeri Jakarta. Di Kota Bogor, saya dilahirkan dan dibesarkan. Kota ini terkenal dengan julukan kota hujan. Bagaimana tidak, hampir setiap hari hujan mengguyur kota ini, bahkan disaat musim kemarau, meskipun hanya hujan rintik-rintik.

Bogor adalah kota yang dikelilingi gunung. Dan rumah saya sendiri berada di kaki gunung Salak. Sehingga tak heran jika saya memiliki hobby berpetualang dan naik gunung. Di sini saya tak pernah melihat kapal laut, karena memang di Bogor tidak ada laut. Sejak kecil, saya sangat senang jika diajak jalan-jalan ke laut meskipun perjalanan yang ditempuh cukup jauh.


Nah, pertama kali diajak melihat laut mata kecil saya terperangah menyaksikan kapal laut dan perahu. Sejak saat itulah saya suka dengan kapal laut dan perahu.

Ketika duduk di bangku SMA kelas 3, saya mengikuti wisata ke Yogjakarta dan sekitarnya. Saya beserta rekan sekolah dan guru-guru mengunjungi berbagai tempat wisata, termasuk Candi Borobudur. Senang bukan main rasanya karena mendapat kesempatan pergi ke tempat yang sangat diinginkan, yang awalnya hanya dapat saya pandangi di televisi dan majalah. Ketika asyik berkeliling candi, lagi-lagi mata saya terperangah melihat kapal laut di relief candi tersebut. Kemudian saya ketahui bahwa kapal laut itu asli Indonesia, dan dikenal dengan nama kapal PHINISI.

Hari berganti hari, dan saya bertambah usia. Kini tibalah waktu untuk melanjutkan study ke bangku kuliah. Saya sangat senang bisa kuliah, meskiipun terpaksa tinggal di Jakarta yang dulu sangat saya hindari karena udaranya yang panas serta polusi yang luar biasa. Perkuliahan saya lewati dengan lancar.

Hari boleh berganti, namun ketertarikan saya pada kapal laut tidak berubah khususnya pada kapal PHINISI yang menjadi kebanggaan nusantara. Rasanya keinginan untuk dapat melihat langsung kapal kuno tersebut semakit menguat hingga saya tulis dalam catatan impian saya, berharap bisa menjadi kenyataan.

Bulan Desember tahun 2010, di kampus diadakan Musabaqoh Tilawatil Qur'an (MTQ), dan yang juara akan dikirim untuk mewakili kampus dalam MTQ Nasional Mahasiswa di Makassar. Saya pun mengikutinya tanpa berharap menang, karena saingannya cukup banyak. Dalam do'a saya hanya berharap bisa memberikan hadiah dan kabar gembira untuk kakak perempuan saya yang berulang tahun pada tanggal 22 Desember, juga ingin memberikan sesuatu untuk Umi/Ibu tercinta pada hari ibu. Ternyata Allah mengabulkan do'a saya, dan saya pun menjuarai lomba MTQ tersebut pada cabang hifzil qur'an, murottal, dan karya tulis. Pada saat pengumuman pemenang diberitahukan bahwa yang juara akan dikirim ke Makassar pada bulan juli 2011 untuk mewakili kampus dalam lomba MTQ.

Awalnya saya biasa saja mendengar bahwa saya berkesempatan pergi ke Makassar. Tapi setelah saya ingat-ingat bahwa phinisi itu berasalal dari Makassar tepatnya di Bulukumba, saya langsung bersyukur dan tersenyum riang. Mungkin inilah jawaban Allah atas do'a saya selama ini, yaitu ingin melihat langsung phinisi yang melegenda. Tak tanggung-tanggung, langsung ke tempat asalnya. Alhamdulillah....

Tanggal 8 juli 2011 saya pun terbang ke Makassar dengan hati yang senang. Karena selain bisa mewakili kampus dalam lomba yang diikuti ribuan peserta dari Sabang-Merauke, saya juga bisa melihat phinisi.

Sepanjang perjalanan di udara saya tidak bisa memejamkan mata, karena menyaksikan pemandangan yang sungguh luar biasa dari udara. Ini pun pengalaman pertama saya naik pesawat.

Pramugari memberitahu bahwa tak berapa lama kami akan tiba di Bandara Sultan Hassanuddin Makassar. Namun, sebelum pesawat mendarat saya melihat layar terkembang di laut, yang sangat saya kenali bentuknya, dan itu adalah kapal PHINISI. Air matapun menetes karena bahagia. Akhirnya pesawat pun bersiap mendarat.

Sepuluh hari di Makassar memberikan pengalaman yang begitu berkesan bagi saya. Saya dan teman-teman berlomba di MTQ Nasional Mahasiswa ini. Meskipun demikian, kami tak menyia-nyiakan waktu untuk berjalan-jalan di Kota Makassar, tak terkecuali mencicipi penganan khas Makassar yang sangat enak.

Di puncak acara MTQ, diumumkan para pemenang lomba. Ternyata saya keluar sebagai juara harapan 1 cabang hifzhil qur'an, ya bisa dibilang juara 4 lah. hehe...

Meskipun juara, saya merasa sedih karena disaat yang sama saya harus kembali ke Jakarta kepada rutinitas yang kadang membuat jenuh. Di Bandara Sultan Hassanudin saya menemukan replika kapal Phinisi yang cukup besar, dan saya tak membuang kesempatan untuk berfoto. Oya, saya pun sempat membeli replika Phinisi di tempat oleh-oleh dengan harga yang cukup murah.

Saya pun naik ke pesawat menuju Jakarta. Makassar semakin jauh dari pandangan, namun rasanya hati ini masih tertinggal di sana.

Mimpi saya untuk melihat Phinisi secara langsung tercapai, dan saya akan berusaha meraih mimpi-mimpi yang lain.