jendela ilmu

Jumat, 30 September 2011

Akulah Majnun

Nyanyian sihir terus mengalun...
Mengalun-alun pada hati para majnun..
Majnun di tengah gurun..
Gurun yang panasnya hingga ubun-ubun..
Para majnun bertambah majnun..
Panas dan dahaga buat majnun melamun
Tampak telaga di ujung gurun
Fatamorgana di lamun

Aku salah seorang majnun
Dari serombongan majnun..
Meski bukan di gurun
Akulah majnun
Diriku terseret arus dari gunung
Terseret jauh hampir ke ujung

Di tengah arus yang lewati beberapa dusun
Sebuah akar kokoh melambai dan mengalun
Mengajakku lalu menarikku yang bingung
Tapi, mengapa ia mengajakku Sang Majnun?
Aku tak tahu..

Kupegang akar yang kokoh itu
Perlahan-lahan kupanjat pohonnya yang tinggi
Kusadari bahwa akar ini menyelamatkanku
Sebelum diriku terseret hingga ke hulu
Bahkan ke lautan ganas yang ombaknya menderu

Akupun bangkit dan kembali melangkah
Menyusuri jalan yang berliku
Melewati dusun-dusun
Dusun yang penuh dengan pohon tinggi
Yang akarnya kokoh sekali
Tak seperti diriku... Majnun...
Mudah goyah meski tak ada badai
Mudah patah meski tak ada petir menyambar

Berjalan dan merenung
Tertegun bahkan mengaung
Sadarlah hai majnun..
Hidup hanya seumur jagung

Akulah Majnun..
Hidupku di lamun
Ingin ku kembali seperti dulu
Sebelum aku menjadi majnun
Dengan prinsip dan tujuan yang kokoh
Tak mudah roboh..

Beramal dan beramal
Hanya mengharap ridho-Nya
Hingga detik waktu tak lagi berdetak
Hingga sampai pada suatu hari
Dimana saatnya ku kembali
Kembali ke kampung yang abadi..